Sidang Reklamasi Tiban, Abob Mengaku Banyak Lupa Sejak Ditahan

Abob menjadi saksi persidangan kasus perusakan lingkungan Pulau Bokor di Tiban dengan terdakwa A Fuan. Selama bersaksi, dia banyak tidak tahu

Sidang Reklamasi Tiban, Abob Mengaku Banyak Lupa Sejak Ditahan
tribunbatam/argianto
Ahmad Machbub alias Abob saat menjadi saksi dalam persidangan kasus perusakan lingkungan Pulau Bokor di Tiban, dengan terdakwa A Fuan, Komisaris PT Poiwer Land, Selasa (18/10/2016) 

Laporan Wartawan Tribun Batam Abd Rahman Mawazi

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, BATAM - Terpidana dalam kasus tindak pidana pencucian uang (TPPU) hasil penyelewengan BBM, Ahmad Machbub alias Abob, menjadi saksi untuk terdakwa A Fuan yang menjabat sebagai komisaris di PT Power Land dalam persidangan kasus perusakan lingkungan Pulau Bokor di Tiban pada persidangan Selasa (18/10/2016). Ia mengenakan rompi kejaksaan berwarna jingga.

Dalam kesaksiannya, Abob beberapa kali mengatakan bahwa ia tidak mengetahui tentang proses penimbunan yang dilakukan oleh PT Stokok Mandiri. Namun ia mengakui telah menyerahkan uang senilai 2,1 juta Dolar Singapura kepada Awang Herman sebagai uang muka untuk proses penimbunan dengan alasan uang tersebut diperlukan untuk keperluan pemotohan bukit dan alat berat.

"Saya tidak tahu yang mulia. Mungkin (penimbunan) itu inisiatifnya sendiri. Rumah saya jauh dari lokasi. Kalau saya tahu, saya larang. Tapi saya tidak tahu. Rumah saya jauh," katanya ketika ketua mejelis hakim menegaskan kembali pertanyaan serupa. Tetapi hakim Edward Sinaga terus mencecarnya dan mengatakan bahwa tidak mungkin pemilik lahan tidak tahu ada kegiatan penimbunan di atas lahannya. Dan lagi-lagi Abob menjawab bahwa ia tidak mengetahuinya.

Menurut Abob, ia baru mengetahui tentang adanya aktivitas penimbunan itu setelah Bapedalda memberikan surat teguran kepada perusahaannya. Ia sendiri baru mengetahui ada teguran itu setelah diberitahukan oleh A Fuan. Ketika itulah ia kemudian melarang aktivitas penimbunan yang dilakukan oleh PT Stokok Mandiri. Ia mengaku heran juga mengapa bisa ada penimbunan sebab surat-surat izin masih belum keluar semua.

"Mungkin dulu-dulunya sudah biasa ditimbun dulu sambil nunggu proses izinnya," komentar hakim ketua terhadap pernyataan Abob yang kerap mengaku tidak mengetahui adanya aktivitas penimbunan di lokasi lahannya sendiri itu.

Abob menegaskan, bahwa meskipun sebagai Direktur PT Power Land, ia lebih banyak meminta bantuan A Fuan yang berposisi sebagai komisaris di perusahaan itu. Sebab, katanya, A Fauan lebih banyak mengetahui tentang prosedur dan peratuhan tentang pertanahan sehingga ia mempercayakan sebagian kegiatan perusahaan padanya.

Beberapa kali majelis hakim mencoba untuk mendalami keterangan Abob tetapi ia sering mengaku tidak tahu. Abob juga mengaku bahwa dirinya saat ini sudah sering lupa sejak ia terjerat kasus tindak pindana pencucian uang. "Sejak saya ditahan, saya sudah agak lupa-lupa ingat yang mulia," ujarnya.

Menurut Abob, kasus yang juga turut menjadikan dirinya sebagai tersangka karena jabatannya sebagai Direktu PT Power Land itu, merupakan ulah orang-orang tertentu yang ingin merampas lahan seluar 68 hektar. Hal itu diungkapkan oleh Abob ketika hendak memasuki sel tahanan di bagian belakang gedung PN Batam. (*)

Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved