Inspirasi

Mengharukan! Meski Sudah 73 Tahun, Nenek Sudarmi Masih Ulet Menjadi Tukang Tambal Ban

Kesulitan hidup menempa seseorang menjadi petarung, begitu juga dengan Nenek Sudarmi. Meski usianya sudah 73 tahun, dia tetap menafkahi keluarga

Mengharukan! Meski Sudah 73 Tahun, Nenek Sudarmi Masih Ulet Menjadi Tukang Tambal Ban
Kompas.com
Sudarmi, nenek 73 tahun yang menjadi tukang tambal ban 

BATAM. TRIBUNNEWS.COM - Usianya memang sudah 73 tahun, meski demikian itu tidak menyurutkan keuletan nenek Sudarmi menjadi tukang tambal ban di Semarang, Jawa Tengah.

Lapak tambal ban Darmi—demikian ia kerap disapa—terletak di Jalan Stadion Selatan, Semarang Tengah, dengan luas sekitar 2 meter x 6 meter. Beberapa bagian bangunan berbahan kayu dan bambu itu telah lapuk.

Di tempat itu, Darmi biasa duduk beralas tikar berlantai tanah, sambil menunggu orang yang memerlukan jasanya. Di hadapannya, terdapat tumpukan ban sepeda motor bekas, juga perlengkapan menambal, dan sebuah kaleng bekas berisi uang receh.

Darmi mulai berjuang seorang diri setelah suaminya wafat, tiga tahun silam.

“Saya dan suami saya sudah 35 tahun bekerja di sini. Dulu waktu suami saya masih hidup, saya hanya membantu. Suami saya yang menambal,” kata Darmi sambil menunjukkan KTP almarhum suaminya yang tersimpan rapi di dompet.

Meski sudah sangat renta, Darmi mengaku tenaganya masih kuat untuk sekadar mengganti atau menambal ban. Namun, untuk pekerjaan yang membutuhkan energi lebih dari itu, Darmi enggan memaksa.

Meski kondisinya memprihatinkan, Darmi mengaku sempat beberapa kali tak dibayar oleh orang yang telah memakai jasanya. Darmi pun mengaku beberapa kali mengikhlaskan bensin dagangannya untuk orang yang kehabisan bahan bakar.

Sebetulnya, kata Darmi, anak-anaknya telah melarangnya bekerja dan menyuruhnya beristirahat di rumah. Namun, selama dia sehat serta tenaganya masih kuat, Darmi enggan berpangku tangan. “Daripada menganggur cuma makan dan tidur, lebih baik saya bekerja, bisa bantu anak cucu,” katanya.

Minah, warga sekitar, merasa iba melihat Darmi bekerja pada usianya yang renta. Menurut Minah, sudah selayaknya Darmi menikmati masa tuanya di rumah dan meninggalkan pekerjaan berat. Namun, di sisi lain, dia mengaku salut sekaligus terharu melihat semangat dan perjuangan Darmi untuk memperoleh rezeki halal.

“Saya saja sebagai perempuan yang masih muda belum tentu kuat kerja seperti itu, apalagi itu pekerjaan yang biasa dikerjakan laki-laki. Tapi, Mbah Darmi mau melakukan itu,” kata Minah. (intisarionline/tribun jateng/khoirul muzakki)

Editor: Agoes Sumarwah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help