Rencana Kenaikan Tarif Listrik Batam

Dirut Bright Batam Bilang Keuangan PLN Sudah Sangat Defisit dan Minta Kenaikan Tarif Tahun Ini

"Keuangan PLN Batam saat ini sudah sangat minus. Jangan sampai kami nggak bisa beli bahan bakar. Kami harap penyesuaian tarif tahun ini."

Dirut Bright Batam Bilang Keuangan PLN Sudah Sangat Defisit dan Minta Kenaikan Tarif Tahun Ini
Tribunnewsbatam.com/Istimewa
Kantor Pusat B'right PLN Batam di Jalan Engku Putri No. 3, Batam Centre, Batam. Telepon 0778-463150 dan 0778-463153. 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, BATAM- Pembahasan soal penyesuaian tarif listrik PLN Batam untuk sektor rumah tangga, saat ini masih bergulir di DPRD Provinsi Kepri.

Direktur Utama Bright PLN Batam, Dadan Kurniadipura mengatakan, pihaknya sudah memberi penjelasan kepada anggota dewan maupun Gubernur Kepri Nurdin Basirun, terkait kondisi yang dihadapi PLN Batam saat ini.

Dia mengaku, setiap bulannya, PLN Batam mengalami defisit.

"Keuangan PLN Batam saat ini sudah sangat minus. Jangan sampai kami nggak bisa beli bahan bakar. Kami harap penyesuaian tarif itu bisa terlaksana tahun ini," kata Dadan usai mengikuti upacara Hari Listrik Nasional ke-71 di kantor Bright PLN Batam, Senin (31/10/2016).

Dadan meminta pengertian dari semua elemen masyarakat terhadap penyesuaian tarif listrik tersebut.

Dikatakannya, saat ini harga jual listrik untuk sektor rumah tangga di PLN Batam, jauh lebih murah dibanding nasional.

"Kami mohon disesuaikanlah. Karena bahan yang dipakai sama. Kalau nasional sekarang Rp 1.300-an per Kwh, malah Januari nanti Rp 1.400. Kita masih Rp 900-an per Kwh," ujarnya.

Jika kondisi seperti ini terus berlanjut, Dadan memprediksi PLN Batam akan sulit beroperasi dalam melakukan pembangunan kedepannya.

"Kondisi kita defisit. PLN mensubsidi listrik untuk sektor rumah tangga. Sedangkan kami juga perlu biaya untuk pembangunan listrik kedepan," kata Dadan.

Dikatakannya, biaya produksi listrik saat ini Rp 1.340 per Kwh.

Namun harga jual PLN Batam ke masyarakat untuk sektor rumah tangga, rata-rata di bawah angka tersebut.

"Kami defisit Rp 6 sampai Rp 7 miliar tiap bulan. Ini yang mau kami kejar. Kami juga tak ambil marjin yang besar," ujarnya.(*)

Penulis: Dewi Haryati
Editor: Sri Murni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved