Soal Heboh Rencana Aksi Unjuk Rasa 4 November. Ini Kata Yusril Ihza Mahendra

Yusril Ihza Mahendra, menillai aksi demonstrasi besar yang direncanakan 4 November 2016 tidak perlu ada

Soal Heboh Rencana Aksi Unjuk Rasa 4 November. Ini Kata Yusril Ihza Mahendra
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Saksi pihak terkait Yusril Ihza Mahendra mengikuti sidang uji materil di Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Senin (5/9/2016). Sidang pengujian materil Pasal 70 (3) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pilkada mengenai cuti selama masa kampanye yang diajukan sendiri oleh Ahok tersebut beragenda mendengarkan keterangan dari DPR dan Pemerintah. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -‎ Pakar Hukum dan Tata Negara, Yusril Ihza Mahendra, menillai aksi demonstrasi besar yang direncanakan 4 November 2016 tidak perlu ada jika negara menegakkan hukum dengan keadilan dan kepastian.

Menurutnya, rencana demo dipicu oleh ucapan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang dianggap umat Islam dan dikuatkan MUI sebagai penistaan terhadap Islam.

"Karena aparat penegak hukum kurang sigap, bahkan dianggap cenderung melindungi Ahok, maka timbullah tekanan agar Ahok segera diperiksa, bahkan ditangkap.

Tapi yang terjadi, Ahok malah datang ke Bareskrim bukan karena dipanggil untuk diperiksa, tetapi atas inisiatifnya sendiri untuk memberi klarifikasi. Inisiatif seperti itu tak dikenal dalam hukum acara," kata Yusril melalui pesan singkatnya, Selasa (1/11/2016).

Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) itu menuturkan, dugaan penistaan agama yang diduga dilakukan Ahok, dilakukan menjelang kampanye Pilkada DKI.

Ini semua menjadi akumulasi ketersinggungan dan kemarahan sebagian umat Islam yang karena ucapan-ucapan Ahok sebelumnya yang juga sering menyinggung agama secara tidak pada tempatnya.

"Namun akumulasi kejengkelan ini dapat pula dimanfaatkan untuk beragam kepentingan politik sesaat yang berada di luar agenda kepentingan umat Islam," tutur Yusril Ihza Mahendra.

Ahok, kata Yusril, memang sudah minta maaf tapi dengan gaya bahasa Ahok yang khas, permohonan maafnya dinilai kurang tulus.

Dikatakannya, Ahok tidak merasa bersalah apalagi menyesal atas ucapannya.

Seperti dikatakannya, Ahok minta maaf karena ucapannya menimbulkan kegaduhan bukan mengaku salah dan menyesal atas ucapannya.

Halaman
123
Editor: nandarson
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help