Bikin Merinding, Kisah Kelam Prostitusi Pakai Korek Api, di Yogyakarta Era 1980-an

Tahun 1980-1990-an, korek api tidak sekadar berfungsi sebagai alat penerang, di Alun-alun Jogjakarta, korek api difungsikan sebagai media prostitusi

Bikin Merinding, Kisah Kelam Prostitusi Pakai Korek Api, di Yogyakarta Era 1980-an
wartakota
Ilustrasi 

Hingga kemudian Jarwo menghabiskan 4 batang korek api, dan Diah mendapatkan uang Rp 40 ribu yang ia perlukan.

Scene awal dalam film ini menggambarkan apa yang dulu kerap terjadi di alun-alun Yogyakarta di era 1980-1990-an.

Dengan harga per batang korek yang jauh lebih murah saat itu Rp 1000.

Cerita ini diperoleh Wregas dari sang guru saat duduk di SMA.

Walaupun secara real, ia melihat langsung, namun cerita dari fenomena tersebut terus terngiang.

“Mengapa ada perempuan yang mau memperlihatkan alat kelaminnya untuk dilihat banyak sekali orang dengan harga Rp 1.000 (melalui korek api),” ujar Wregas, saat ditemui Tribun Bali usai pemutaran film di Ubud Writers and Readers Festival 2016.

Fenomena tersebut memang sudah tidak tampak lagi saat ini.

Namun Wregas Bhanuteja (24), sineas muda asal Kota Gudeg ini kembali mengemasnya dalam film pendek bertajuk “Prenjak”.

Prenjak adalah nama dari satu jenis burung.

Lalu apa kemudian yang menjadi korelasi antara burung dan isi film tersebut?

Halaman
123
Editor: Agoes Sumarwah
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved