Bocah Tenggelam di Sagulung

Soal Bocah Tewas di Bekas Galian Pengembang, Warga Meminta Penegak Hukum Tidak Tutup Mata

Menyusul tewasnya tiga bocah dalam lima hari terakhir akibat tenggelam di bekas galian proyek pengembang, warga minta penegak hukum tidak tutup mata

Soal Bocah Tewas di Bekas Galian Pengembang, Warga Meminta Penegak Hukum Tidak Tutup Mata
tribunbatam/ian pertanian
Lokasi bekas galian tempat bocah Ivan Enudo panggabean (6) tewas tenggelam 

BATAM. TRIBUNNEWS.COM, BATAM-Kasus hilangnya nyawa anak-anak di bekas galian proyek pengembang di Sagulung, mengusik hati banyak pihak. Termasuk dari anggota Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Kota Batam.

Anggota KIM Kota Batam, Parlin Sihombing yang mewakili Sagulung, menuturkan dirinya sangat prihatin melihat kejadian yang mengakibatkan hilangnya anak-anak di Sagulung. "Yang paling kita sayangkan dalam hitungan hari, tiga orang nyawa anak melayang," katanya, Minggu (13/11/2016).

Kejadian hilangnya nyawa anak yang pertama terjadi pada Minggu (6/11/2016) di komplek Cipta jalan dapur 12 Sagulung, yang menewaskan Rico (11) dan Brian (10), selanjutnya pada Jumat (11/11/2016) di bekas galian proyek perumahan Rexvin Green Park kavling Bukit Melati, yang menewaskan Ivan Enudo Panggabean (6).

"Melihat kejadian ini kita sangat miris, seharusnya hal itu tidak perlu terjadi, kalau pihak pengembang memang serius dalam melakukan pengawasan ditempat kerja mereka," kata Parlin.

Dia juga menjelaskan seharusnya pihak pengembang atau pemilik proyek harus peduli dengan lingkungan, mulai dari keamanan, kenyamanan dan ketenangan. "Kalau kita lihat proyek yang ada di Sagulung baik pengerjaan drainase, terlebih proyek pengembang perumahan tidak pernah peduli dengan keselamatan warga sekitar,"terangnya.

Dia menuturkan beberapa proyek pengembang perumahan di Sagulung tidak ada yang memasang batas pengaman, maupun rambu-rambu, serta larangan. "Ini kita lihat beberapa proyek pengembang perumahan di Sagulung lokasinya dibiarkan begitu saja, semua bisa masuk," terangnya.

Parlin juga mempertanyakan aturan yang seharusnya dilaksanakan oleh para pekerja proyek. "Kalau kita lihat proyek di tengah kota, seperti di Batam Centre, semua proyek memiliki pembatas dan tidak sembarangan orang masuk, sementara di Sagulung tidak ada satupun proyek yang memakai pembatas," kata Parlin.

Dia juga menegaskan agar kejadian di Sagulung yang menewaskan anak-anak, harus menjadi perhatian serius oleh para pengembang yang ada di Sagulung. "Tetapi untuk para pengembang, dimana di areal mereka sudah terjadi insiden yang menewaskan anak-anak harus diproses secara hukum,"terangnya.

Dia juga menegaskan agar pihak penegak hukum tidak tutup mata dengan kejadian yang menewaskan anak-anak di bekas galian proyek pengembang di Sagulung. "Kita percaya kejadian tersebut terjadi pasti ada unsur kelalaian dari pihak pengembang,"kata parlin Sihombing. (*) 

Penulis: Ian Pertanian
Editor: Agoes Sumarwah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help