Legenda Gudeg Jogja

Jejak Gudeg Terlacak sejak Tahun 1550, Konon Penemunya Prajurit Kerajaan Mataram

Jejak sejarag kuliner gudeg terlacak sejak tahun 1550, konon penemunya prajurit Kerajaan Mataram

Jejak Gudeg Terlacak sejak Tahun 1550, Konon Penemunya Prajurit Kerajaan Mataram
KOMPAS.COM/FIRA ABDURACHMAN
Gudeg kering Yu Djum, rasanya gurih dan tidak terlalu manis di lidah para turis 

BATAM. TRIBUNNEWS.COM, YOGYAKARTA-Semangat memulai pagi di Yogyakarta dengan menikmati kegurihan gudeg sebagai menu sarapan. Adalah jalan Wijilan yang letaknya tak jauh dari kawasan Keraton Yogyakarta.

Pintu masuknya berbentuk gerbang putih tinggi yang masih kokoh peninggalan kerajaan Mataram. Ah, rasanya seperti membuka kembali pelajaran sejarah.

Jalan Wijilan mulai ramai oleh penjual gudeg sejak tahun 1942. Sampai sekarang jalan ini ramai oleh kedai gudeg mulai pagi sampai malam. Bahkan ada yang buka 24 jam.

Dari kawasan Keraton Yogyakarta bisa jalan kaki atau naik becak. Tarif becak biasa dikisaran harga Rp 10.000 - Rp 15.000 dari kawasan Malioboro, Tugu, dan sekitarnya.

Mulai jam 6 pagi para penjual gudeg berjejer di sepanjang jalan. Ada yang lesehan ada juga yang model kedai dengan kursi dan meja. Susah–susah gampang memang memilih gudeg mana yang bakal cocok di lidah.

Setidaknya ada 2 macam gudeg yaitu gudeg basah dan gudeg kering. Sesuai namanya, kalau gudeg basah biasanya sedikit berkuah atau biasa disebut “nyemek”.

Kalau gudeg kering tanpa kuah atau tidak berair tapi tidak sampai garing. Gudeg kering dimasak lebih lama hingga kuahnya habis. Warnanya cokelatnya juga lebih tua dibanding gudeg basah.

Dari literatur yang ada, gudeg adalah bagian dari sejarah Kerajaan Mataram. Konon sekitar tahun 1550 seorang istri prajurit kerajaan yang bertugas di dapur umum biasa memasak nangka muda atau disebut Gori.

Suatu hari ia mencoba mencampur nangka muda dengan santan dan gula merah. Ternyata hasilnya enak dan banyak yang suka. Akhirnya menjadi makanan favorit utama sampai sekarang bagi masyrakat Yogyakarta.

Ada juga kisah lainnya yang mengatakan bahwa gudeg ditemukan oleh seorang prajurit secara tidak sengaja. Prajurit tersebut memang biasa memasak nangka muda dengan santan dan gula merah hasil dari hutan sekitar.

Halaman
12
Editor: Agoes Sumarwah
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved