Operasi Tangkap Tangan KPK

Awalnya Rp 500 Juta. Ternyata Politisi Demokrat Ini Sudah Banyak Terima Sangu

Namun ternyata, anggota Komisi Hukum DPR RI ini juga menerima sejumlah gratifikasi yang jika ditotal, jumlahnya sangat besar, mencapai Rp 2,7 miliar.

Awalnya Rp 500 Juta. Ternyata Politisi Demokrat Ini Sudah Banyak Terima Sangu
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Anggota DPR RI Fraksi Demokrat Komisi III I Putu Sudiartana tiba di gedung KPK Jakarta untuk menjalani pemeriksaan, Jumat (15/7/2016). I Putu Sudiartana diperiksa perdana sebagai tersangka pasca penahanan operasi tangkap tangan terkait kasus dugaan suap dalam proyek 12 ruas jalan di Sumatera Barat. 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Masih ingat operasi tangkap tangan (OTT) politisi Partai Demokrat I Putu Sudiartana yang tertangkap di Padang?

Saat diperiksa, politisi awal Bali yang menerima suap dari pengusaha dan melibatkan Kepala Dinas PU Sumbar ini menerima suap Rp 500 juta.

Namun ternyata, anggota Komisi Hukum DPR RI ini juga menerima sejumlah gratifikasi yang jika ditotal, jumlahnya sangat besar, mencapai Rp 2,7 miliar.

Gratifikasi itu diberikan secara bertahap oleh sejumlah pihak.

Hal itu terungkap saat jaksa penuntut Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Herry BS Ratna Putra, membacakan dawkwaan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (16/11).

Menurut Henry, suap Rp 500 juta dari pengusaha tersebut menyangkut pengusahaan dana alokasi khusus (DAK) kegiatan sarana dan prasarana penunjang Provinsi Sumatera Barat, pada APBN-P 2016.

"Pemberian hadiah tersebut bertentangan dengan kewajibannya selaku anggota DPR RI, untuk tidak melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme," ujarnya.

Awalnya, menurut dakwaan, sekitar Agustus 2015, orang kepercayaan Putu Sudiartana bernama Suhemi, menemui pihak swasta bernama Desrio Putra.

Suhemi mengaku sebagai teman Putu dan menawarkan jasa membantu pengurusan anggaran di DPR.

Suhemi kemudian meminta dipertemukan dengan Kepala Dinas Prasarana Jalan, Tata Ruang dan Pemukiman Provinsi Sumatera Barat, Suprapto.

Halaman
1234
Editor: Alfian Zainal
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help