Cerita Ruminem, Nenek Penambal Ban yang Biasa dengan Cibiran Orang dan Hidup Susah

Suaminya dulu menjadi tukang tambal ban. Ruminem menggantikannya pada 1977 karena melihat suaminya sering sakit-sakitan

Cerita Ruminem, Nenek Penambal Ban yang Biasa dengan Cibiran Orang dan Hidup Susah
kompas.com/Hamzah Arfah
Ruminem (kanan) dengan cekatan melayani permintaan salah satu konsumennya. 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, LAMONGAN – Meski sempat dicibir saat mulai menjadi tukang tambal ban, Ruminem (74), tetap menekuni pekerjaan tersebut selama 30 tahun.

Ruminem mengaku sudah terbiasa mendapat cibiran dan hidup dalam kesusahan.

Selama yang dilakukannya benar dan halal, ia bertahan dengan pekerjaannya itu.

"Cibiran orang lain itu sudah biasa karena saya sendiri sudah terbiasa hidup susah," ujar Ruminem di rumahnya, RT3/RW1 Dusun Bulu, Desa Bulutengger, Kecamatan Sekaran, Lamongan, Jawa Timur, Senin (12/12/2016).

Ruminem lahir di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, pada 1942. Ayahnya berasal dari Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Sejak 1957, Ruminem memutuskan merantau di Jawa dan bekerja di beberapa tempat.

"Sejak perawan saya sudah merantau ke Jawa, makanya saya sudah lancar bahasa Jawa. Sebelum jadi tukang tambal ban, dulunya saya juga sempat bekerja ikut orang mulai jadi pembantu sampai buka warung," ujarnya.

Ia menikah dengan Sukadi, kini 70 tahun, dan tinggal berdua dalam rumah sederhana yang dijadikan bengkel sepeda dan tambal ban.

Sukadi lebih dulu menjadi tukang tambal ban. Ruminem menggantikannya pada 1977 karena melihat suaminya sering sakit-sakitan.

"Tidak langsung jadi tukang tambal ban sih, tapi belajar dulu dari melihat bapak cara menambal ban karena bapaknya juga sempat melarang saya.

Baru setelah 30 tahunan terakhir ini, saya menggeluti profesi ini setelah bapaknya juga sempat sakit-sakitan," kata Ruminem.

Halaman
12
Editor: nandrson
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved