Sengketa Perburuhan di Bintan

Rindu Anak Istri di Kampung, Yasin Hanya Memimpikan Lewat Tidur

Meski dipecat dari pekerjaan, Yasin tetap bertahan di depan tempat kerjanya. Dia mengaku rindu keluarga karena di Bintan merantau

Rindu Anak Istri di Kampung, Yasin Hanya Memimpikan Lewat Tidur
energitoday.com
Ilustrasi smelter

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, BINTAN-M Yasin, mantan buruh subkon yang mengerjakan kontruksi dermaga di PT Bintan Alumina Indonesia (BAI) di lahan reklamasi laut di Kalang Batang, Kecamatan Gunung Kijang masih bertahan di depan lokasi proyek.

Dia bahkan sampai tidur berhari hari di pondok-pondok di bukit batu, lokasi pertambangan milik PT MITI yang juga berhadapan dengan proyek dermaga PT BAI.

Suara dentuman bom penghancur batu untuk pertambangan yang sesekali bergema dan bergetar sering sudah menjadi pemandangan biasa saja.

Yasin masih menunggu haknya sebagai pekerja yang dipecat sepihak hanya lantaran meminta kaus tangan untuk keamanan las atau welding material. Manajemen tanpaknya masih memilih menutup telinga terhadap itu.

Dengan kondisi itu tak sedikit yang bersimpati pada pekerja asal Pemangkat, Kalimantan Barat itu.

Hidupnya di Bintan terlunta-lunta dan diabaikan subkon yang memecatnya tanpa kertas. Hak dia selama bekerja tak kunjung direspon manajemen subkon.

Dalam kesendirian, siang malam, Yasin menunggu hak itu agar secepatnya pulang bersama anak dan istrinya di kampung halaman.

Kondisi Yasin akhirnya sampai di telinga sarikat kerja di Bintan. Sarikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Reformasi Bintan Senin (19/12) siang mendatangi lokasi proyek hendak mempertanyakan perihal kasus yang dialami Yasin.

SPSI mempertanyakan, mengapa manajemen bisa memecat pekerjanya tanpa prosedur legal yang diatur dalam undang undang ketenagkerjaan.

"Kok prosedurnya segampang itu ya, hanya karena minta sarung tangan koyak, terus langsung dipecat hanya dengan pakai omongan saja,"kata Darsono, perwakilan SPSI Reformasi Bintan.

Darsono mengatakan, rencana pertemuan dengan manajemen subkon proyek dermaga gagal kali itu. Di pos sekuriti, chief security yang menemui mereka memberitahu, pihak manajemen sedang tak ada di lokasi.

"Chief security memberitahu kalau bos mereka tak ada di dalam,"kata dia.

Gagal bertemu, SPSI kata Darsono akan tetap menemui mereka hingga masalah tersebut tuntas.

SPSI juga kata Darsono akan menempu cara lain jika manajemen subkon memilih diam dan membuat kasus Yasin berlarut larut. Cara tersebut adalah langsung berhadapan dengan manajemen PT BAI, selaku pemilik proyek dermaga di lahan reklamasi laut Kalang Batang, Gunung Kijang.

"Kita bakal langsung bertemu dengan PT BAI, karena mereka pemilik proyek. Mempertanyakan bagaimana subkonnya memperlakukan pekerjanya, itu saja,"kata Darsono. (*) 

Penulis: Aminnudin
Editor: Agoes Sumarwah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved