Terungkap. Inilah Bahan Baku Uang Kertas Baru NKRI yang Diluncurkan Bank Indonesia

Seperti diketahui, uang rupiah dicetak Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri)

Terungkap. Inilah Bahan Baku Uang Kertas Baru NKRI yang Diluncurkan Bank Indonesia
BANK INDONESIA
Uang baru pecahan Rp 50.000 dan Rp 5.000 yang diluncurkan Bank Indonesia, Senin (19/2/2016). 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bank Indonesia (BI) hari ini secara resmi mengeluarkan dan mengedarkan uang rupiah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tahun emisi 2016.

Selain menampilkan gambar 12 orang pahlawan nasional baik pada uang kertas maupun uang logam, uang rupiah NKRI tahun emisi 2016 ini pun memiliki beragam fitur pengamanan maupun bahan baku yang menarik untuk ditilik.

Seorang wanita menunjukan uang baru emisi 2016,
Seorang wanita menunjukan uang NKRI baru emisi 2016, Senin (19/12/2016).

Seperti diketahui, uang rupiah dicetak Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri).

Lalu, apa saja sebenarnya bahan baku pembuatan uang rupiah?

“Bahan baku impor dan nasional. Ada beberapa sumber dan negara dan tender,” kata Gubernur BI Agus DW Martowardojo di Jakarta, Senin (19/12/2016).

Pada kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara menuturkan, untuk uang kertas, salah satu bahan bakunya adalah penggunaan serat kapas.

Pasalnya, serat kapas dinilai lebih lentur.

“Serat kapas, ini pakai dan sebagian ada. Lebih lentur, tidak mudah sobek,” ujar Tirta.

Ia menyebut, pertimbangan pemilihan serat kapas sebagai bahan baku uang kertas rupiah salah satunya adalah lantaran uang kertas yang mengandung serat kapas lebih tahan terhadap kemungkinan dicoret-coret.

Selain itu, hal lain adalah pertimbangan perilaku masyarakat dalam memelihara uang, khususnya uang kertas.

“Masih culture. Ada uang disimpan di saku pakaian atau disetrika. Kalau serat kapas tidak rusak disetrika,” jelas Tirta.

Beberapa negara di dunia menggunakan polimer sebagai bahan baku pembuatan uang kertas.

Meski demikian, ujar Tirta, BI memutuskan untuk tidak menggunakan bahan tersebut dalam pembuatan uang rupiah, karena sifatnya yang cenderung tidak tahan panas.(*)

Editor: nandarson
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help