Kemenpora Minta FORKI Sosialisasi Aturan Pemakaian Jilbab di Karate

Tujuannya, untuk memastikan ada atau tidaknya perhiasan yang dapat berpotensi menimbulkan luka di leher

Kemenpora Minta FORKI Sosialisasi Aturan Pemakaian Jilbab di Karate
Raihaneh news
Karateka berjilbab dari Gaza 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mengimbau Pengurus Besar Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (PB FORKI) agar mensosialisasikan secara efektif aturan penggunaan jilbab pada cabang olahraga karate agar tidak menimbulkan persoalan sensitif.

Imbauan itu terkait dengan pemberitaan seorang siswi Sekolah Menengah Pertama bernama Auliya yang diinformasikan lewat media sosial tidak diperbolehkan bertanding pada Magetan Cup. Turnamen tersebut berlangsung 23 Desember.

Larangan tersebut berawal dari sebuah akun Facebook bernama Janan Farisi yang diunggah pada 24 Desember.
Unggahan tersebut kemudian mengundang reaksi dan menimbulkan kontroversi di media sosial.

"Kami sudah menghubungi pihak FORKI dan mendapat penjelasan dari Sekretaris Umum FORKI Jawa Timur Purwanto.

Dia mengatakan bahwa panitia penyelenggara Magetan Cup tidak memiliki aturan pelarangan penggunaan jilbab. Namun, penggunaan jilbab dalam turnamen karate itu beragam," kata Kemenpora dalam rilisnya, Selasa (27/12/2016).

"Aturan penggunaan jilbab dalam kompetisi karate bergantung dari tingkat pertandingannya," tulis Kemenpora.

Menurut terminologi World Karate Forum (WKF), mereka mensyaratkan bahwa perempuan berjilbab dapat mengikuti pertandingan tingkat nasional dan internasional jika sudah memenuhi standar.

Tujuannya, untuk memastikan ada atau tidaknya perhiasan yang dapat berpotensi menimbulkan luka di leher.

Dengan demikian, ada jilbab yang dipakai demi keperluan keamanan saat yang bersangkutan menjalani pertandingan.

Halaman
12
Editor: nandrson
Sumber: Bola
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved