Rutan Tanjungpinang Sudah Over Kapasitas tapi Tidak Bisa Ditambah. Ini Sebabnya

Berbeda dengan Lapas maupun Rutan lain, Rutan di Tanjungpinang merupakan bangunan tua bekas peninggalan Belanda dan Portugis.

Rutan Tanjungpinang Sudah Over Kapasitas tapi Tidak Bisa Ditambah. Ini Sebabnya
Facebook Rutan Tanjungpinang
Bangunan Rutan Tanjungpinang, peninggalan kolonial Portugis dan Belanda 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM.TANJUNGPINANG- Di Provinsi Kepri, satu-satunya Rumah Tahanan (Rutan) paling unik adalah di Tanjungpinang.

Berbeda dengan Lapas maupun Rutan lain, Rutan di Tanjungpinang merupakan bangunan tua bekas peninggalan Belanda dan Portugis.

Kepri pun telah menetapkan bangunan tersebut menjadi cagar budaya.

Akibatnya, bangunan tersebut tidak boleh diubah ataupun tambahan dengan bangunan baru.

Padahal, Rutan Tanjungpinang ini sudah mengalami over kapasitas.

Kapasitas bangunan Rutan ini untuk 177 tahanan, namun jumlah tahanan saat ini mencapai 358 atau dua kali lebih banyak.

Hanya saja, Rony menilai, hingga saat ini warga binaan masih tertampung dan masih manusiawi.

"Untuk tambahan kapasitas tidak dimungkinkan lagi karena Rutan ini cagar budaya. Tak boleh diubah atau ditambah," kata Kepala Rutan Tanjungpinang Rony Widiastomo kepada Tribun Batam, Minggu (1/1).

Jalan keluarnya adalah relokasi atau membuat bangunan baru di tempat lain.

Rony mengaku terus melaporkan jumlah dan kondisi di tahanan ke pada Kemenkumham.

Bila ingin dibangun Rutan baru, hal itu kewenangan Kemenkumham terkait.

Rony mengatakan, bangunan ini didirikan tahun 1867, merupakan penjara peninggalan kolonialisme, masa penjajahan Portugis dan Belanda.

Bangunan ini terkenal seram. Ada ruang yang konon ceritanya digunakan sebagai kamar untuk hukuman gantung, penyiksaan serta ada sumur tujuh tingkat.

Kendati sudah tua, bangunan ini masih terlihat kokoh dan megah.

Penulis: Wahib Wafa
Editor: Alfian Zainal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved