Puluhan Buruh Asing Dijatuhi Hukuman Penjara dan Cambuk di Arab Saudi Gara-Gara Tuntut Gaji

Hampir 50 buruh atau tenaga kerja asing dijatuhi hukuman penjara dan cambuk oleh pengadilan di Mekkah, Arab Saudi, akibat demonstrasi yang dilakukan.

Puluhan Buruh Asing Dijatuhi Hukuman Penjara dan Cambuk di Arab Saudi Gara-Gara Tuntut Gaji
AFP/Fayez Nureldine
Industri konstruksi sangat terpukul akibat penurunan harga minyak yang menjadi andalan pendapatan Arab Saudi. 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, MEKKAH- Hampir 50 buruh atau tenaga kerja asing dijatuhi hukuman penjara dan cambuk oleh pengadilan di Mekkah, Arab Saudi, akibat demonstrasi yang dilakukan tahun lalu karena gaji mereka tidak dibayar.

Media Arab Saudi, seperti dilaporkan BBC pada Rabu (4/1/2016), menyebutkan, hukuman penjara bervariasi antara 45 hari hingga empat bulan.

Sebagian tenaga kerja asing dijatuhi hukuman cambuk 300 kali dalam kasus pengerusakan fasilitas umum dan menyulut kekacauan.

Media Arab Saudi tidak merinci kewarganegaraan para pekerja asing yang dikenai hukuman pidana itu.

Harga yang harus dibayar karena melakukan protes di negara itu tetap tinggi.

Sebagian dari mereka adalah pekerja perusahaan konstruksi raksasa, Saudi Binladin, yang memecat banyak karyawan dan tidak membayar gaji mereka selama berbulan-bulan ketika perekonomian Arab Saudi terhantam oleh penurunan harga minyak dunia.

BBC Timur Tengah melaporkan, kekacauan di kalangan pekerja asing di Arab Saudi dipicu oleh pemutusan hubungan kerja ratusan ribu orang di sejumlah perusahaan besar.

Banyak di antara mereka ditelantarkan sementara gaji tidak dibayar.

Sejumlah bus milik perusahaan Saudi Binladin dilaporkan dibakar oleh tenaga kerja yang marah.

Perusahaan itu didirikan lebih dari 80 tahun lalu oleh ayah dari pemimpin Al Qaeda, Osama bin Laden, yang tewas dalam penyergapan militer Amerika Serikat di Abbottabad, Pakistan.

Perusahaan itu mengembangkan gedung-gedung besar di Arab Saudi namun industri konstruksi sangat terpukul akibat penurunan harga minyak yang menjadi andalan negara tersebut. (kompas.com/bbc indonesia)

Editor: Sri Murni
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help