Balada Penambang Pasir di Bintan

Lapangan Pekerjaan Kurang dan Banyak Pengangguran, Terpaksa Menambang Pasir

Langkanya pekerjaan dan banyaknya pengangguran mendorong warga memilih menambah pasir ketimbang menganggur. Ini curhat mereka

Lapangan Pekerjaan Kurang dan Banyak Pengangguran, Terpaksa Menambang Pasir
tribunbatam/aminnudin
Penambang pasir beraktivitas dengan mesin sedotnya di Galang Batang, Kabupaten Bintan 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, BINTAN-Suara mesin sedot pasir mengaung ngaung di tengah kolam hasil tambang pasir milik Jay (50), warga Galang Batang, Kecamatan Gunung Kijang, Kamis (5/1/2017).

Sudah satu jam mesin sedot pasir bekerja, namun pasir putih berbutir kecil dan halus belum juga ditemukan. Di tengah kolam berwarna hitam pekat itu, dua penambang, berusia paruh bayah terus bekerja mengarahkan sedotan ke area diperkirakan pasir yang dicari berada.

Jay mengatakan, kedalaman kolam tambang pasir yang dia olah sudah lebih dari kepala manusia. Para penambang di tengah kolam, bertaruh nyawa demi selembar duit Rp 35 ribu-Rp 45 ribu per hari. Dalam satu hari, para penambang tersebut bisa memenuhi permintaan 40 lori, namu terkadang tak ada sama sekali. Tergantung keberadaan pasir.

Seperti Kamis siang itu, hingga pukul 15.00, mesin sedot pasir belum mampu menghasilkan pasir yang diinginkan para pemesan yang rata rata dari Tanjungpinang dan Kijang. “Dari tadi pagi kami berdiri di sini, menunggu pasir, tapi hingga sekarang belum ada pasir satu pun, hanya air yang didapat,”kata Okta, penambang yang khusus mengumpulkan pasir untuk dimuat ke lori yang menunggu.

Jika tak ada pasir yang bisa dimuat seharian, itu alamatnya kurang bagus. Berarti tak ada receh yang bisa dibawa pulang ke rumah. “Seperak pun kita pun belum dapat. Pasir tak ada, hanya sampah yang didapat,”kata Okta.

Sampah dalam bahasa penambang pasir rakyat atau pasir ilegal dalam bahasa penegak hukum adalah pasir berwarna hitam seperti lumpur. Pasir itu banyak mengendap dalam kubangan yang membuat air kolam penambangan berwarna hitam pekat.

Bisnis pasir bagi para pelakunya kepada Tribun mengungkapkan tidak secemerlang dulu lagi. Rauf, koordinator tambang di bagian barat Galang Batang mengatakan, pada tahun 2004 hingga 2014, pendapatan Rp 3 juta dari bisnis keruk pasir di Galang Batang itu dianggap hanya mainan saja.

“Di tahun itu, uang Rp 3 juta itu sehari, itu cuma mainan mainan doang kalau cuma dapat segitu. Sekarang, dapat satu juta saja, susahnya minta ampun, sampai peras keringat sampai malam, belum tentu ada hasil,”katanya.

Di Galang Batang, berdasarkan pengamatan Tribun, ada puluhan tambang pasir rakyat masih beroperasi. Sebagian para pelakunya adalah mantan pekerja yang merangkak dari bawah. Alasan mereka masih betah menekuni bisnis tersebut macam macam. Jay mengatakan, bisnis itu terpaksa dia lanjutkan karena banyaknya pengangguran di wilayahnya.

“Alasan saya kenapa masih mau di bisnis ini, yaitu tadi, banyak anak muda dan orang tua menganggur di sini. Lapangan kerja kurang, pergi kerja di mana mana mereka ditolak, karena kurang pendidikan. Hanya cara inilah kita bisa membantu,”kata dia. (*)

Penulis: Aminnudin
Editor: Agoes Sumarwah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved