'Harga Cabai di Indonesia Dua Kali Lipat Lebih Mahal dari Singapura'

"Bayangkan, cabai di supermarket di Singapura, yang notabene impor dari Malaysia, harganya hanya sekitar Rp 80.000 per kg,"kata Hizkia Respatiadi.

'Harga Cabai di Indonesia Dua Kali Lipat Lebih Mahal dari Singapura'
Istimewa
Ilustrasi cabai 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kebijakan swasembada pangan memiliki andil terhadap mahalnya harga cabai akhir-akhir ini, terutama dikarenakan tidak adanya pasokan cabai impor berkualitas yang dapat membantu menurunkan harga di tingkat konsumen.

Sebuah studi yang tengah dijalankan oleh Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menunjukkan bahwa jumlah produksi cabai nasional belum dapat mencukupi permintaan domestik.

Konsumsi rumah tangga untuk cabai mencapai 370.000 ton per tahun.

Jumlah ini belum termasuk permintaan sektor industri makanan olahan, yang sebelumnya disebut oleh Kepala Badan Pusat Statistik di tahun 2015 bahwa, angka produksi domestik belum dapat memenuhi permintaan dari sektor tersebut.

Mahalnya ongkos produksi dan minimnya infrastruktur pendukung distribusi cabai dari petani hingga ke pasar ritel turut membuat harga cabai di tingkat konsumen menjadi mahal.

Cabai rawit merah misalnya, kini harganya tercatat oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebesar Rp 120.000 per kg.

Meski demikian, beberapa konsumen melaporkan harganya bahkan mencapai Rp 170.000 per kg.

"Bayangkan, cabai di supermarket di Singapura, yang notabene impor dari Malaysia, harganya hanya sekitar Rp 80.000 per kg. Ini berarti harga cabai lokal kita dua kali lipat lebih mahal dari itu," kata Peneliti CIPS di bidang Perdagangan dan Kesejahteraan Rakyat, Hizkia Respatiadi dalam keterangan tertulisnya, Jumat (6/1/2017).

Untuk itu, impor dapat menjadi alternatif untuk menurunkan harga, apalagi jika harganya memang lebih murah daripada produksi nasional.

Untuk cabai merah misalnya, dari tahun 2008 hingga 2012, rata-rata harga per kg di tingkat konsumen di Indonesia bisa mencapai Rp 21.000 lebih mahal dibandingkan dengan harga referensi dari Food and Agriculture Organization (FAO).

"Sudah saatnya pemerintah memanfaatkan perdagangan internasional guna menurunkan harga pangan. Jika kita hanya mengandalkan produksi lokal, maka harga pangan kita juga akan terus tergantung pada kondisi cuaca yang tidak menentu di negara kita," pungkasnya. (kompas.com, Iwan Supriyatna)

Editor:
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved