Duriangkang Dulu dan Sekarang

Waduk Tadah Hujan Jadi Andalan Kota Batam

Pembangunan waduk Baloi pada tahun 1977. Mulai beroperasi setahun kemudian, waduk Baloi ini memiliki kapasitas 30 liter per detik

Waduk Tadah Hujan Jadi Andalan Kota Batam
dok. ATB
Sei Jodoh, pusat perdagangan awal Kota Batam tahun 70-an. 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, BATAM - Sebagai daerah industri yang juga berbatasan dengan negara Singapura dan Malaysia, Pulau Batam disibukkan dengan berbagai aktivitas.

Mulai dari ekspor dan impor barang, alih kapal, perdagangan bebas, hingga jalur pendistribusian barang dan penumpang baik dari dalam maupun luar negeri.

Pulau Batam merupakan kota terbesar di Kepulauan Riau dan kota terbesar keempat di wilayah Sumatera setelah Medan, Palembang dan Pekanbaru.

Batam juga merupakan salah satu kota dengan pertumbuhan terpesat di Indonesia.

Ketika dibangun pada tahun 1970-an oleh Otorita Batam (saat ini bernama BP Batam), kota ini hanya dihuni sekitar 6.000 penduduk.

Dalam tempo 40 tahun, penduduk Batam bertumbuh hingga 158 kali lipat.

Berdasarkan data di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Batam per 2015, jumlah penduduk Batam sudah mencapai 1.164.352 jiwa.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya, saat itu masyarakatnya masih mengandalkan kedekatan dengan Singapura dan Malaysia.

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya jumlah penduduk, Otorita Batam mempersiapkan berbagai infrastruktur guna memenuhi kebutuhan Batam sebagai kota modern.

Diantaranya menyediakan air bersih yang merupakan elemen penting sebuah kota berkembang.

Hal tersebut ditandai dengan pembangunan waduk Baloi pada tahun 1977.

Mulai beroperasi setahun kemudian, waduk atau dikenal dengan nama Dam Baloi ini memiliki kapasitas 30 liter per detik.

Dilengkapi instalasi pengolahan air (IPA), Dam Baloi mengaliri masyarakat di kawasan Pelita, Jodoh, Nagoya dan sekitarnya.

Namun saat ini waduk Baloi telah ditutup.

Selanjutnya pada tahun 1978, Otorita Batam membangun Waduk Nongsa untuk melayani pelanggan di wilayah Nongsa, Batubesar dan sekitarnya.

Kemudian Waduk Sei Harapan yang melayani wilayah Sekupang dan sekitarnya dan mulai beroperasi pada tahun 1979 dengan kapasitas abstraksi 60 liter per detik dan 210 liter per detik.

Pada tahun 1985, Otorita Batam kembali membangun Waduk Sei Ladi dengan kemampuan abstraksi sebesar 240 liter per detik yang ditujukan untuk masyarajkat di wilayah Jodoh, Tiban, Baloi, Tanjung Uma dan sekitarnya.

Sementara Waduk Mukakuning dibangun 1989 yang ditujukan untuk masyarakat Batuaji, Sagulung, Tanjunguncang dan sekitarnya dengan kemampuan abstraksi 310 liter per detik.

Sehingga, sampai pada pertengahan 1990, Kota Batam sudah memiliki waduk dengan total kemampuan abstraksi 850 liter per detik.

Waduk yang paling besar diantara waduk lainnya milik Otorita Batam adalah Waduk Duriangkang yang dibangun pada tahun 1990.

Air bersih dari waduk ini, untuk memenuhi kebutuhan air bersih (70 Persen) di hampir seluruh wilayah Batam.

Mulai dari Kecamatan Sei Beduk, Sukajadi, Batam Centre, Nagoya, Sungai Panas, Bengkong, Batu Ampar, hingga Tanjung Sengkuang.

Dalam kondisi normal, Waduk Duriangkang dapat menampung air baku hingga 78 juta m3.

Namun demikian, kapasitas tersebut tidak semuanya bisa diolah.

"Duriangkang sendiri saat ini melayani 151.466 pelanggan ATB di wilayah Batu Besar, Kabil, Batam Centre, Bengkong, Nagoya, Jodoh,Sengkuang, dan Batu Merah dengan konsumsi air bersih setiap bulan mencapai 2.485.664 m3," kata Enriqo Moreno, Corporate Communication Manager ATB.

Ke semua waduk ini memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat di Pulau Batam yang bersumber dari air hujan.

Pemilihan air baku dari air hujan ini terbilang disengaja, mengingat Batam tidak memiliki sumber air tanah atau mata air.

Selain itu, kontur tanah di Pulau Batam relatif sulit untuk terjadinya resapan air, sehingga air hujan yang jatuh, sebagian besar mengalir di permukaan dan langsung ditampung dalam waduk.

Sejak melakukan konsensi dengan Otorita Batam pada 1995 lalu, PT Adhya Tirta Batam (ATB) menangani Instalasi Pengolahan Air (IPA) untuk mengolah air baku menjadi air bersih.

IPA ini sesuai standar World Health Organization (WHO) dan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes).

Air ini selanjutnya didistribusikan kepada pelanggan ATB yang sudah berjumlah lebih dari 250 ribu. (*)

Editor: Alfian Zainal
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help