Asal-asalan Mencuci Pakaian Bisa Bahayakan Kesehatan, Lho. Ini Hasil Penelitiannya

Para peneliti menemukan, metode cuci dengan suhu rendah dan deterjen lembut dapat menjadi faktor pemicu timbul dan berpindahnya bakteri.

Asal-asalan Mencuci Pakaian Bisa Bahayakan Kesehatan, Lho. Ini Hasil Penelitiannya
Kompas.com
Ilustrasi 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM - Cara Anda mencuci akan menentukan seberapa bersih pakaian Anda. Pergeseran dari mencuci dengan suhu tinggi dan deterjen yang keras ke mencuci dengan suhu rendah dengan deterjen lembut, adalah baik untuk kain, kulit tangan yang sensitif dan lingkungan, tetapi tidak untuk membunuh bakteri pada pakaian.

Para peneliti menemukan, metode cuci dengan suhu rendah dan deterjen lembut dapat menjadi faktor pemicu timbul dan berpindahnya bakteri.

Dalam studi ini, para peneliti meneliti level bakteri yang ditemukan di pakaian bersih dan potensi risiko infeksi dari penggunaan metode cuci ini.

Pakaian dalam bersih merupakan pembawa utama sisa-sisa feses. Ada sekitar 0,1 gram feses ditemukan pada setiap pasang pakaian dalam yang bersih.

"Saya sangat prihatin melihat adanya bakteri dari pakaian kotor yang berpindah ke barang-barang seperti lap bersih. Kemudian, kita menggunakan lap itu untuk membersihkan atau mengeringkan piring," kata Dr Lisa Ackerley, seorang ahli kesehatan di AS.

Ackerley percaya, mencampur pakaian yang sudah sangat terkontaminasi oleh bakteri dengan pakaian lain ketika mencuci, dapat menyebabkan siklus peredaran kuman yang tak berujung.

Pakaian, handuk tubuh (handuk mandi) dan handuk wajah lebih mungkin terkontaminasi oleh patogen, bakteri yang dapat menyebabkan penyakit.

Dalam satu kali sesi mencuci, mungkin ada sekitar 100 juta bakteri E. coli yang berpotensi mencemari cucian berikutnya.

"Ada sekitar sepersepuluh gram kotoran pada sepasang pakaian," kata Charles Gerba, seorang profesor mikrobiologi di University of Arizona.

Beberapa kuman yang mungkin terkandung di dalam sisa feses termasuk virus hepatitis A , norovirus, rotavirus, Salmonella dan E. coli.

Halaman
12
Editor: Tri Indaryani
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help