TribunBatam/

Kasus BBM Ilegal di Kampung Bugis Masuk Penyidikan, Soal Berapa Tersangka? Ini Jawaban Kejari Pinang

Kasus BBM ilegal di Kampung Bugis, Kejari Pinang mengaku telah menerima SPDP-nya. Soal berapa tersangka, ini jawaban Kejari Pinang!

Kasus BBM Ilegal di Kampung Bugis Masuk Penyidikan, Soal Berapa Tersangka? Ini Jawaban Kejari Pinang
Istimewa
Ilustrasi BBM Ilegal 

BATAM. TRIBUNNEWS.COM, TANJUNGPINANG-Kasus pengungkapan ilegal bahan bakar solar yang ditangani oleh Polres Tanjungpinang dari hasil penangkapan di kampung Bugis belum lama ini, kejaksaan Negeri (kejari) telah menerima Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP).

Supardi kepala seksi pidana khusus menuturkan pihaknya beberapa hari yang lalu telah menerima SPDP dari penyidik Polres Tanjungpinang. Dari isi SPDP itu.baru tercantim satu tersangka.

"Sudah kita terima belum lama ini dengan satu tersangka. Mengenai adanya tersangka lain saya belum tau," tutur Supardi ditemui di Kejari Tanjungpinang pada jumat (3/2/2017).

Pihaknya mengaku belum kodinasj lebih jauh soal ini.karena memang Supardi juga baru menjabat di Kejari .Sehingga ia belum mengenal dekat para pihak penyidik yang menangani masalah tersebut. Jika ada tersangka lain dari kasus ini ia berharap pihak kepolisian segera mengirimkan SPDP.

"Ya sekarang kan sudah jelas aturan MK yang baru segera dikirim SPDP setelah penetapan tersangka," katanya.

Sebelumnya diketahui Polres Tanjungpinang menetapkan tersangka kasus penyalahgunaan minyak solar bersubsidi dari hasil penangkapan terhadap pria berinisial A pemilik gudang di rumah apung kampung Bugis Tanjungpinang dengan barang bukti 7 ton.

BBM tersebut sesuai izinya diperuntukan untuk nelayan. Namun justru dijual ke pihak lain untuk mendapatkan keuntungan pribadi. 3 orang sebelumnya langsung diamankan polres.

Diantaranya pria berinisial A dan dua lainya yang belum diketahui identitasnya merupakan Pemilik izin distribusi atau pemegang Delivery Order (do) yang berperan utama dalam kasus ini dan sopir. (*) 

Penulis: Wahib Wafa
Editor: Agoes Sumarwah
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help