Kejati Kepri Bantah Perlambat Berkas Kasus Dugaan Korupsi BPHTB. Ini Katanya

Yunana Harjaka menyampaikan, Jaksa peneliti yang melakukan telaah atas berkas yang diterima dari penyidik Polda tetap bekerja maksimal

Kejati Kepri Bantah Perlambat Berkas Kasus Dugaan Korupsi BPHTB. Ini Katanya
tribunbatam/wahib waffa
Kajati Kepri Yunan Harjaka ekspos kasus dugaan gratifikasi BSM di Pemkab Anambas, Selasa (31/1/2017). Dalam kasus ini, Kejati menetapkan Tengku Mukhtarudin mantan Bupati Anambas tersangka, bersama dua orang lainnya 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, TANJUNGPINANG - Kejati Kepri sebagai Jaksa peneliti, membantah pihaknya memperlambat proses pemeriksaan berkas kasus penyidikan dugaan korupsi BPHTB, pejabat Badan Pertanahan Nasional (BPN), dengan tersangka BS yang ditangani Polda Kepri.

Kepala Kejaksaan Tinggi Kepri, Yunana Harjaka menyampaikan, Jaksa peneliti yang melakukan telaah atas berkas yang diterima dari penyidik Polda tetap bekerja maksimal.

Baca: Terkait Kasus Dugaan Korupsi BPHTB, Polda Kepri Minta Tanyakan ke Kejati

"Agar proses penanganan perkara itu berkualitas. Berkas bolak balik dari antara penyidik dan Jaksa peneliti itu hal yang biasa dan bersifat konsultatif.

Baca: Diduga Gelapkan BPHTB Rp 1,5 M, Kasi BPN Batam Bambang Supriyadi Ditahan Polda Kepri

Karena dalam melakukan telaah Jaksa harus melihat apakah perkara itu sudah memenuhi unsur delik materil karena dalam berkas itu harus jelas tindakan pidana korupsinya, itu yang ditelaah Jaksa peneliti," ujar Yunan di konfismasi, Minggu (5/2/2017).

Dalam hal ini, Yunan juga menyampiakan pihak Polda dan instansinya tidak perlu berpolemik soal hal tersebut, karena menurutnya akan menghabiskan waktu dan tenaga saja.

"Penyidik Polda dan penuntut dari Kejaksaan sebagai jaksa Peneliti kini seolah-olah terjebak polemik di media, dan ini tidak perlu dibesar-besarkan, yang menjadi kontra produktif dalam penanganan kasus," ujarnya.(*)

* Baca berita terkait di Harian TRIBUN BATAM edisi Senin, 6 Februari 2017

Penulis: Wahib Wafa
Editor: nandarson
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help