Sebaiknya Anda Tahu

Mahasiswa UGM Kembangkan Daun Sukun Jadi Teh, Percepat Penyembuhan Sakit Ginjal-Diabetes. Mau Coba?

Mahasiswa UGM kembangkan teh daun sukun. Khasiatnya diklaim bisa sembuhkan serangan diabetes dan ginjal. Ini penampakannya

Mahasiswa UGM Kembangkan Daun Sukun Jadi Teh, Percepat Penyembuhan Sakit Ginjal-Diabetes. Mau Coba?
Tribun Jateng/Amanda Rizqiana
Ilustrasi 

BATAM. TRIBUNNEWS.COM, SEMARANG-Mahasiswa Ilmu Komputer Suhartono bersama dua temannya, Retno Wulandari dan Yunita Praptiwi yang merupakan alumni jurusan Biologi UGM, telah mengembangkan dan memproduksi teh herbal dari daun tanaman sukun. Diolah sendiri dari pekarangan rumah Suhartono, produk teh yang dinamai Teh Lasyaka ini berhasil dipasarkan ke hampir seluruh wilayah Indonesia.

“Daun sukun di Indonesia belum banyak dimanfaatkan, paling hanya untuk pakan ternak. Karenanya kami berusaha tingkatkan nilai dan manfaat daun sukun dengan diolah menjadi teh herbal yang bermanfaat bagi kesehatan," ujar Suhartono, Senin (6/2).

Pada awalnya, Suhartono melihat banyak pohon sukun di rumahnya dan hanya diambil buahnya saja, namun daunnya yang lebar begitu melimpah. Ia bersama kedua temannya kemudian menggali informasi tentang manfaat daun sukun dan berencana untuk memanfaatkannya.

Suhartono menjelaskan, berdasarkan penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang dilakukan oleh Tjandrawati, daun sukun bermanfaat menjaga jantung dari kerusakan sistem kardiovaskuler.

Daun sukun diketahui mengandung flavonoid dan sitosterol. Kandungan dalam daun sukun rupanya juga mampu membantu penyembuhan berbagai penyakit antara lain ginjal, darah tinggi, dan diabetes.

"Kandungannya itu bermanfaat untuk menurunkan kadar kolesterol sehingga baik bagi yang berpenyakit jantung. Selain itu yang mengalami gagal ginjal, kandungan kreatinin dan ureumnya bisa turun," paparnya.

Tanpa Pewarna
Retno menegaskan bahwa teh daun sukun buatannya terbuat 100 persen dari daun sukun dan tanpa bahan pengawet. Selain itu, tidak diberikan zat pewarna seperti teh-teh kemasan pada umumnya.

"Untuk mengonsumsi teh daun sukun ini, setelah dicelupkan atau diberi air panas harus diaduk terus selama 4-5 menit baru bisa berwarna. Beda dengan teh kemasan lain yang ketika dicelupkan langsung berwarna coklat, itu berarti pakai pewarna," ungkap Retno.

Ia menjelaskan bahwa pengolahan daun sukun menjadi bubuk teh begitu sederhana. Daun-daun yang masih muda dan segar dipetik lalu dicuci bersih. Kemudian, daun dipotong-potong dan dijemur selama 3-4 hari hingga dibiarkan mengering. Setelahnya, daun yang sudah kering dihaluskan dan dioven, baru kemudian dilakukan pengemasan.

Teh Daun Sukun Lasyaka telah dikemas dalam dua jenis produk, yakni teh celup dan teh tubruk. Teh celup berisi 20 kantong dihargai Rp 20 ribu, sedang kemasan tubruk dengan isi 35 gram dijual seharga Rp 5.000.

"Usaha produksi rumahan yang dimulai sejak tahun 2013 ini mampu memproduksi 400-500 pack per bulannya dengan rata-rata omset Rp 8 juta - Rp 10 juta per bulan," sebutnya.

Produk teh sendiri telah mendapat izin dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman dan dipasarkan melalui online di tehdaunsukun.co.id. Walau telah meraih omzet yang cukup tinggi, namun Suhartono dan Retno bercita-cita meningkatkan pemasaran lebih luas lagi.

"Masih ingin meningkatkan penjualan karena manfaatnya yang tinggi, terutama banyak penderita ginjal dan jantung yang rutin mengonsumsi teh ini. Selain itu, ini juga bisa mempromosikan bahwa tanaman di Indonesia kaya akan manfaat," kata Suhartono. (Tribun Jogja/Ikrar Gilang Rabbani)

Editor: Agoes Sumarwah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved