Ingin Tahu Kelainan Janin dalam Kandungan Lewat Tes Genetika, Perlukah?

Saat ini sudah tersedia tes invasif seperti CVS untuk menentukan ada tidaknya down syndrome janin dalam kandungan. Apakah tes itu penting?

Ingin Tahu Kelainan Janin dalam Kandungan Lewat Tes Genetika, Perlukah?
Thinkstock/Monkey Business Images
Ilustrasi janin 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM - Calon orangtua di masa depan akan menghadapi informasi genetik yang kaya, yang bisa memberi manfaat atau justru mudarat.

Dunia science-fiction yang memungkinkan para ilmuwan menjadi "desainer bayi" memang masih jauh, tetapi teknologi genetika modern sudah membawa perubahan mendasar pada kehamilan dan pola asuh.

Saat ini sudah tersedia tes invasif seperti CVS (chorionic villus sampling) untuk menentukan ada tidaknya Down syndrome, sekuens genome fetal atau tes microarray kromosom untuk mengetahui apakah ada kromosom yang kurang atau lebih.

Akurasi tes genetika sebelum dan selama kehamilan yang terus meningkat bisa membawa dilema pada calon orangtua. Bagaimana tidak, calon orangtua kelak akan menghadapi pertanyaan-pertanyaan baru dan sulit.

Apakah Anda ingin tahu jika janin yang sedang dikandung akan memiliki Down syndrome? Atau calon si buah hati memiliki faktor risiko genetik menderita penyakit Alzheimer atau autisme? Apa yang harus dilakukan jika janin ternyata memiliki gangguan genetik berat?

Bonnie Rochman, penulis buku The Gene Machine:How Genetic Technologies Are Changing The Way We Have Kids- And The Kids We Have, mengingkatkan bahwa hasil tes genetika pada kehamilan bisa mendatangkan kecemasan dan kebingungan, sekaligus pencerahan, pada calon orangtua.

"Semakin canggih sebuah tes, semakin orangtua tidak paham dengan hasil tes karena mereka harus memutuskan apa yang harus dilakukan dengan informasi itu," kata Rochman dalam wawancara dengan Huffington Post.

Ia mengatakan, jika Anda termasuk orangtua yang gampang cemas dan takut, sebaiknya tidak perlu melakukan tes kehamilan yang berpotensi memberi informasi tidak jelas.

Perkembangan tes-tes kehamilan juga mendapat kritis dari komunitas orangtua anak berkebutuhan khusus. Mereka menuding bahwa tes darah yang bisa menunjukkan apakah janin memiliki Down syndrome di trimester awal akan menjadi alasan pada aborsi.

"Setiap orangtua tentu berharap memiliki bayi yang sehat. Tetapi istilah 'bayi sehat' juga tidak jelas, karena bayi down syndrome bisa sangat sehat namun memiliki kromosom ekstra. Jadi, sehat seperti apa yang diharapkan," katanya.

Halaman
12
Editor: Tri Indaryani
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help