Manuver Trump Dikhawatirkan Bakal Perparah Defisit AS

Tim kabinet Presiden AS Donald Trump kemungkinan akan menggunakan manuver baru untuk mengatasi defisit neraca perdagangan AS

Manuver Trump Dikhawatirkan Bakal Perparah Defisit AS
Kompas.com/Elle Decor/Getty Images
Presiden AS Donald Trump mulai menjalankan tugas eksekutifnya di Ruang Oval, Gedung Putih, Amerika Serikat. 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, NEW YORK - Tim kabinet Presiden AS Donald Trump kemungkinan akan menggunakan manuver baru untuk mengatasi defisit neraca perdagangan AS. Asal tahu saja, nilai defisit AS pada tahun lalu mencapai US$ 502 miliar.

Defisit neraca perdagangan merupakan perbedaan antara nilai pengiriman barang dan jasa yang masuk dan keluar di Amerika Serikat.

Berdasarkan laporan di Wall Street Journal, pemerintahan Trump saat ini tengah mempertimbangkan perubahan mengenai bagaimana menghitung defisit perdagangan. Pemerintah dikabarkan akan menghilangkan komponen kunci perdagangan yang akan membuat defisit AS semakin besar. Nilai defisit yang besar ini dapat digunakan sebagai alat tawar menawar dengan Meksiko pada perundingan perdagangan berikutnya.

Laporan ini memicu perdebatan sengit di antara advokat perdagangan.

Salah seorang mantan pejabat perdagangan AS mengatakan perubahan itu sangat misleadiing dan tidak akan menghasilkan perjanjian dagang yang lebih baik.

"Mereka ingin mengubah metodologi dalam rangka membuat defisit neraca perdagangan terlihat lebih besar dari yang seharusnya. Satu, itu sama saja memalsukan data. Dua, hal ini akan membuat hidup lebih sulit dengan negara lainnya karena otomatis angkanya juga harus dinaikkan. Ketiga, ini bisa berdampak pada konsekuensi yang tidak diinginkan yakni mendoorng distribusi dan lapangan kerja logistik keluarb dari AS," jelas sumber CNNMoney yang namanya minta dirahasiakan.

Hal yang akan dihilangkan dari perhitungan tersebut adalah 're-export' atau diekspor kembali. Tim perdagangan Trump dilaporkan membahas apakah re-export tetap dimasukkan dalam perhitungan. Dengan menghilangkan re-export, maka defisit neraca perdagangan AS akan terlihat lebih besar dari kondisi sekarang.

"Ini duplikasi. Ide untuk mengubah metodologi dengan menghilangkan komponen re-export sangat tidak jujur," jelas Edward Alden, senior fellow Council on Foreign Relations.

Sekadar informasi, menurut Badan Statistik AS, re-export merupakan barang yang ditanam, produksi, atau dibuat di luar AS, lalu dikirim kembali ke Amerika untuk kemudian dikirim ke negara ketiga tanpa ada perubahan yang signifikan.

Memasukkan perhitungan re-export sesuai dengan perhitungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Badan Moneter Internasional (IMF).

Sedangkan sejumlah advokat yang mendukung isu ini beralasan, produk tersebut berasal dari negara lain, tidak memiliki perubahan di AS, dan dikirim lagi ke negara lain.

Para kritikus menilai, re-export tidak mendukung pasar tenaga kerja AS. (*)

Editor: Tri Indaryani
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help