Afrika dan Amerika Selatan Alami Gerhana "Cincin Api"

Para astronom dan penyuka astronomi di Argentina termasuk di antara yang menyaksikan apa yang disebut sebagai gerhana annular saat peristiwa alam itu

Afrika dan Amerika Selatan Alami Gerhana
AFP PHOTO / BAY ISMOYO
Gerhana matahari total terlihat di Ternate, Maluku, 9 Maret 2016. Gerhana matahari total di Indonesia berlangsung selama 1,5 menit-3 menit. Di pusat jalur gerhana, gerhana total terpanjang terjadi di Maba, Halmahera Timur, Maluku Utara, selama 3 menit 17 detik. 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM - Para pengamat bintang bertepuk tangan saat mereka memasuki kegelapan Minggu (26/2/2017), ketika bulan lewat di depan matahari dalam gerhana spektakuler "cincin api".

Para astronom dan penyuka astronomi di Argentina termasuk di antara yang menyaksikan apa yang disebut sebagai gerhana annular saat peristiwa alam itu melintasi Amerika Selatan sesaat setelah pukul 1200 GMT, dalam perjalanan ke Afrika.

Menggunakan teleskop khusus, kaca mata pelindung, atau perangkat lubang jarum kardus buatan sendiri, mereka menyaksikan matahari sesaat menghilang hampir seluruhnya ketika bulan melintas di jalurnya.

Gerhana itu paling terlihat di sepanjang jalur Chile, Argentina, Angola, Zambia dan Republik Demokratik Kongo.

Sekitar 300 pengamat bintang berkumpul di lokasi terpencil dekat kota Sarmiento, titik di bagian selatan Argentina di mana gerhana hanya meninggalkan cincin terang di langit gelap.

Beberapa penonton membunyikan "erkes", terompet panjang tradisional Amerika Selatan.

"Saya sudah menyaksikan enam gerhana annular dan masing-masing berbeda," kata Josep Masalles Roman, penggemar astronomi yang datang jauh-jauh dari Barcelona di Spanyol.

Tontonan itu kemudian berlanjut ke Angola selatan, di kota Benguela, kemudian Zambia dan Kongo sebelum matahari terbenam.

Di ibu kota Angola, Luanda, sedikit yang tampaknya menyadari kejadian luar biasa di langit, tapi mereka yang mengetahuinya sempat menyaksikan gerhana sekitar 15 menit dari 1630 GMT.

"Ini pertama kalinya saya menyaksikan fenomena ini -- Saya benar-benar senang," kata pengamat bintang Providencia Luzolo. "Hanya saja saya tidak bisa menyaksikannya dengan baik karena itu membuat mata saya sakit."

Halaman
12
Editor: Tri Indaryani
Sumber: Antara
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help