Kasus Narkoba di Ban Mobil Batu 5 Pinang, Terdakwa Menangis Tanpa Henti Saat Pledoi

Terdakwa kasus narkoba dalam ban mobil menangis sejadi-jadinya saat bacakan pledoi usai dituntut hukuman mati. Ini suasananya!

Kasus Narkoba di Ban Mobil Batu 5 Pinang, Terdakwa Menangis Tanpa Henti Saat Pledoi
tribunbatam/wahib waffa
Ilustrasi. Dua terdakwa narkoba 80 kilogram, Edo dan Idrizal saat menjalani persidangan di PN Tanjungpinang, Selasa (15/11/2016) 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, TANJUNGPINANG- Setelah sebelumnya tuntutan dibacakan, kini Idrizal dan Edo Ronaldi menggunakan haknya sebagai terdakwa untuk menyampaikan pembelaanya atau Pledoi. Dalam sidang tersebut, suasana Pengadilan Mendadak haru.

Keluarga korban nampak begitu bersedih saat mendengar pembacaan pembelaan kedua terdakwa. Edo Ronaldi membacakan langsung ‎pembelaan yang ia buat secara tertulis. Berbekal lembaran kertas, ia membaca seluruh isi pembelaan.

"Saya hanya manusia awam yang buta hukum, buta menilai perilaku yang ternyata prilaku tersebut merugikan diri saya. Sehingga saya terjerat masalah hukum atas tipu muslihat jahat mereka pada saya maupun pada negara ini. Insyalloh sekarang saya niatkan dan saya tanamkan dalam-dalam diri saya bahwa saya akan merubah diri saaya. Mengoreksi segala keslahan saya, dan juga untuk keluarga maupun untuk negara yang saya cintai," ujarnya sembari terisak tangis membacakan isi Pledoi pada Senin (27/3/2017).

Meski Edo menyasali perbuatanya, namun ia tetap menyangkal tidak melakukan persengkokolan jahat mengedarkan maupun membantu jaringan narkoba. Ia tetap keukuh dengan pendirianya bahwa ia tidak mengetahui isi dalam ban yang dibawa itu. Dia mengaku sebagai supir rental mobil hanya diperintahkan saja.

"Saya sangat menyesal tentang apa yang saya lakukan ini. ‎Saya tau setelah saya ternyata diperalat oleh mereka. Mungkin saya ini bodoh tidak tahu sehingga dengan mudah dijadikan alat mereka yang ternyata itu merugikan banyak pihak. Karena ini saya pun dituntut hukuman mati," katanya terisak sembari meneteskan air matanya.

Edo berharap dan memohon agar memberikan hukuman seringan-ringanya. Karena hukuman ringan menurutnya menjadi sebuah impian seorang yang sangat ditunggu oleh keluarganya. Hal serupa tak jauh berbeda pun diungkapkan oleh Idrizal.

Istri berparas cantik berjilbab itu terus menunggu selama persidangan di bangku sidang. Dalam persidangan itu, ia menuturkan bahwa ia kini sedang menderita sakit. Mulai dari sakit ambeien, ginjal hingga kencing batu. Dia juga disarankan untuk cuci darah.

"Saya saat ini sedang menderita sakit. Saya merupakan anak pertama yang tak ingin mengecewakan keluarga dan istri saya. Istri saya saat ini sedang kuliah, saya tak mau istri saya putus kuliah. Sehingga saya rela bekerja keras untuk mengangkat ekonomi keluarga meski saya disarankan untuk tidak‎ bekerja berlebihan," tambah dengan tersedu-sedu.

Setelah mendengar pledoi dari ‎para terdakwa, ketua majelis hakim Wahyu Prasetyo melanjutkan agenda sidang Replik dan Duplik. Agenda sidang terpaksa dibarengkan setelah sebelumnya persidangan sempat tertunda 5 kali.

"Kita saat ini lanjutkan dengan Replik dan Duplik hari ini juga. Pekan depan kita lanjutkan sidang dengan putusan," kata Wahyu.

Hingga kini persidangan pun dilanjutkan hingga malam. Mengingat batas masa waktu sudah akan habis. Agar tidak dibatalkan hukuman demi hukum, Sidang terpaksa dirapel. (*)

Penulis: Wahib Wafa
Editor: Agoes Sumarwah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help