Benarkah Sudah Hidup Sehat Tetap Berisiko Kanker? Simak Penelitiannya

Kanker saat ini merupakan penyakit yang menjadi momok menakutkan karena belum ada obat yang benar-benar bisa menyembuhkan.

Benarkah Sudah Hidup Sehat Tetap Berisiko Kanker? Simak Penelitiannya
Kompas.com
Ilustrasi 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM - Kanker saat ini merupakan penyakit yang menjadi momok menakutkan karena belum ada obat yang benar-benar bisa menyembuhkan.

Ditambah lagi, gaya hidup sehat juga tak menjamin kita terhindar dari kanker.

Tim ilmuwan dari Amerika Serikat menyatakan, kanker disebabkan oleh kesalahan acak pada kode genetik yang terjadi ketika sel-sel tubuh membelah.

Mayoritas kanker kemungkinan terjadi karena kecacatan DNA saat memperbanyak diri yang penyebabnya memang karena "sial" saja.

Hasil penemuan itu berbeda dengan anggapan selama ini yang menyebut bahwa mutasi kanker diwariskan secara genetik atau pun dipicu oleh faktor lingkungan.

Ketua peneliti Dr.Cristian Tomasetti dari Johns Hopkins Kimmel Cancer Center, AS, mengatakan, memang kita perlu menghindari faktor-faktor risiko kanker, seperti merokok.

"Namun setiap kali sel normal membelah diri dan menggandakan DNA-nya untuk memproduksi dua sel baru, bisa saja terjadi kesalahan. Dan itu bisa menyebabkan mutasi kanker," ujar Tomasetti.

Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Science ini ditunjukkan bahwa hampir dua pertiga kanker disebabkan karena mutasi yang diakibatkan error saat menggandakan DNA.

Kesalahan-kesalahan tersebut ditemukan pada hampir 32 jenis kanker. Pada kanker pankreas, 77 persen disebabkan karena kesalahan penggandaan. Kanker prostat, otak, dan tulang, juga lebih dari 95 persen disebabkan karena kekeliruan penggandaan.

Pada kanker paru, ternyata hanya 35 persen yang disebabkan oleh kekeliruan saat proses replikasi. Mayoritas dipicu oleh kebiasaan merokok dan faktor lingkungan.

Secara umum, 66 persen terjadinya kanker dipicu oleh kesalahan proses penggandaan. Hal itu bisa menjelaskan mengapa kanker juga bisa diderita orang yang menjalani gaya hidup sehat dan tidak punya riwayat kanker dalam keluarganya.

"Kanker dipicu oleh kekeliruan saat penggandaan, dan itu dapat terjadi tak peduli seberapa sehat faktor lingkungan kita," kata salah satu peneliti Dr.Bert Vogelstein.

Kendati begitu, ia tetap menyarankan agar kita menghindari faktor lingkungan dan gaya hidup yang bisa memicu mutasi kanker.

Selain itu, kemajuan teknologi dalam mendeteksi kanker sedini mungkin juga penting sehingga peluang kesembuhan lebih besar. (*)

Editor: Tri Indaryani
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved