Korupsi Proyek KTP Elektronik

Setelah Sita Sejumlah Aset, KPK Telusuri Aset Lain Milik Andi Narogong

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat ini fokus mendalami kasus korupsi e-KTP dengan tersangka Andi Agustinus (AA) alias Andi Narogong.

Setelah Sita Sejumlah Aset, KPK Telusuri Aset Lain Milik Andi Narogong
TRIBUNNEWS.COM
Tersangka baru kasus dugaan korupsi KTP elektronik yang juga pengusaha Andi Agustinus alias Andi Narogong tiba di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (23/3/2017) malam. KPK menangkap Andi Narogong yang diduga membagi-bagikan uang pelicin anggaran, setelah ditetapkan sebagai tersangka terkait kasus dugaan korupsi KTP elektronik. 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat ini fokus mendalami kasus korupsi e-KTP dengan tersangka Andi Agustinus (AA) alias Andi Narogong.

Kemarin, Selasa (11/4/2017) penyidik memeriksa enam orang untuk dimintai keterangannya. Hari ini, Rabu (12/4/2017) penyidik memeriksa lagi 10 saksi untuk tersangka Andi Narogong.

"Terhadap saksi-saksi yang diperiksa untuk AA, baik kemarin dan hari ini ialah ‎untuk mendalami aset-aset AA yang diduga berada dalam penguasaan saksi Inayah," terang Juru Bicara KPK, Febri Diansyah.

Febri menuturkan 10 saksi yang diperiksa hari ini yakni Deddy Supriadi, mantan Direktur Keuangan, SDM dan Umum Perum PNRI, Isnu Edhi Wijaya, Direktur Utama Perum Percetakan Negara RI (2009-2013), Johannes Richard Tanjaya, Direktur asuransi AXA Finaance, mantan Direktur PT Java Traade Utama.

Saksi lainnya yaitu Junaidi Adinata, Katik utomo, Lisa Murniati Lesmana, Suhendra Hadisuwarsa, Toga Harahap, serta Yimmy Iskandar Tedjasusila alias Bobby.

"Saksi terakhir yakni Evi Andi Noor Halim, It Consultant PT Inotech Staff IT PT RFID Indonesia," tambah Febri.

Seperti diketahui, dalam kasus korupsi e-KTP KPK telah menetapkan empat orang tersangka. Dua tersangka sudah disidang yakni Irman dan Sugiharto.

Sementara dua lainnya masuk penyidikan baru di KPK yakni Andi Agustinus alias Andi Narogong dan Miryam S Haryani.

Dalam proyek ini negara mengalami kerugian sekurang-kurangnya Rp 2,3 triliun dari total nilai paket pengadaan sekira Rp 5,9 triliun.

‎Atas perbuatannya, Andi Narogong disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1) dan atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 Juncto Pasal 64 KUHP.

Untuk menyempurnakan perkara ini dan mengumpulkan kerugian negara KPK sudah menyita 200 ribu dolar AS dari tangan AA.

Selain itu, KPK telah menggeledah dua rumah di Tebet, Jakarta Selatan. Hasilnya telah dilakukan penyitaan sejumlah dokumen yang terkait dengan kepemilikan beberapa aset Andi Narogong termasuk dua unit mobil, merk Velfire dan Range Rover. (*)

Editor: Tri Indaryani
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help