Motion

Trail Adventure Community Chapter Tiban, Adu Ketangkasan Trail di Atas Lumpur

Terkesan berbahaya dan merupakan hobi yang mahal, tidak menyurutkan semangat para anggota komunitas ini untuk bermain.

Trail Adventure Community Chapter Tiban, Adu Ketangkasan Trail di Atas Lumpur
TRIBUNBATAM/ANNE MARIA
Trail Adventure Community Chapter Tiban 

WAJAH polos Justin (12) memerah. Siswa kelas VI SD itu tampak kepanasan. Keringat yang mengucur di dahinya seolah tak dihiraukan. Sambil melepas sarung tangan safety, bocah itupun mengambil air minumnya.

Meski lelah, Justin tampak puas memutari sirkuit Tiban Mentarau dengan sepeda motor MX miliknya. Walau masih tergolong belia, hobi Justin terbilang ekstrim. Jika anak seusianya ada yang belum bisa mengendarai sepeda motor, Justin justru sudah bermain-main dengan motor MX di atas lumpur dengan kecepatan tinggi.

‎"Dari kelas IV SD sudah main. Sering lihat papa main dulu, makanya suka. Seru. Pas dilumpur, terus pas motor meloncat tinggi," ujar Justin.

Tak cuma ia, di sirkuit Tiban Mentarau, Minggu (9/4) lalu pun terlihat beberapa anak-anak lain seusianya yang sudah bermain motor MX. Mereka merupakan anggota komunitas Trail Adventure Community (TAC) Chapter Tiban.

Kebanyakan dari mereka merupakan anak-anak para pria dewasa yang juga tergabung dalam komunitas motor trail tersebut. Satu di antara anggota junior lainnya, Adit (13) mengatakan dirinya sudah mulai bermain MX sejak usia delapan tahun.

"‎Pertama dulu belajarnya bukan langsung begini. Tapi trabas dulu. Masuk hutan. Kalau di hutan kan persiapan fisik saja. Tapi kalau MX harus lebih berani. Nyali lebih tertantang, karena disini lebih susah track nya," tutur anak laki-laki yang masih duduk di bangku kelas 1 SMP Negeri 3 itu.

Adit sendiri mengaku sudah pernah bermain di sirkuit Capung, Marina. Adit mengatakan, dengan MX dia bisa merasakan sensasi "terbang" saat melintasi track seolah berbukit-bukit. Ia pun mendapatkan dukungan dari ayah dan ibunya. Anak kedua dari lima bersaudara inipun mengaku tidak bosan dengan hobinya itu.

"Biarpun cuma mutar-mutar di track ini, nggak bakal bosan. Karena kita mau belajar kan, nanti lihat lebih dewasa dan Jago dari kita main, kita pasti penasaran juga," tutur Adit.

Olahraga ekstrim ini pernah pernah membuat jatuh para menggilanya. Namun, baik Justin dan Adit mengaku tidak jera. Apalagi saat bermain, keduanya sudah menggunakan pakaian yang aman.

"Pernah jatuh, lumayan juga. Tapi karena pakai safety jadi nggak kenapa-kenapa. Jatuh itu resiko, apalagi kalau track-nya nggak dijaga, jadi bolong-bolong. Itu harus dihindari," kata Justin menambahkan.

Terkesan berbahaya dan merupakan hobi yang mahal, tidak menyurutkan semangat para anggota komunitas ini untuk bermain. Hal itu seperti yang diungkapkan anggota TAC lainnya, Jajang Wijayanto bahwa hobi dengan sepeda motor special engine ini memang menjadi sesuatu hal yang sangat menantang.

"Inikan bisa dibilang hobi yang lelaki banget. High risk. Tapi namanya hobi, kita tetap suka dan merasa tertantang setiap melakukannya.‎ Soal mahal untuk beli motor ataupun perlengkapan safetynya, itu relatif saja. Saya rasa masih banyak hobi lain yang lebih mahal, tapi namanya hobikan, tidak ternilai," tutur Jajang.(ane)

Penulis: Anne Maria
Editor: Tri Indaryani
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help