Sebaiknya Anda Tahu

MUI Jateng Memperbolehkan Penundaan Kehamilan Tapi Melarang Pemandulan Permanen, Ini Alasannya!

MUI Jateng Memperbolehkan Penundaan Kehamilan Tapi Melarang Pemandulan Permanen, Ini Alasannya!

MUI Jateng Memperbolehkan Penundaan Kehamilan Tapi Melarang Pemandulan Permanen, Ini Alasannya!
TRIBUNJATENG/M NUR HUDA
Sekretaris Komisi Fatwa MUI Jawa Tengah, DR KH Fadlolan Musyafa saat dialog dalam forum kehumasan program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga, di hotel Aston Semarang, Kamis (20/4) 

BATAM. TRIBUNNEWS.COM, SEMARANG-Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah, tidak memberikan larangan terhadap adanya penundaan kehamilan yang merupakan program Keluarga Berencana (KB), bahkan mendukung KB. Karena program Keluarga Berencana berkaitan dengan pembangunan kemandirian masyarakat.

Baca: BREAKINGNEWS: Ketua Demokrat Blak-blakan Tujuan Sebenarnya Anak SBY ke Kepri. Ini Pengakuan Apri!

Baca: Menyayat Hati Lihat Terkini Julia Perez? Banyak Artis Meneteskan Air Mata Melihat Kondisinya

"Mengatur penundaan anak itu tidak ada pertentangan dalam agama, artinya itu boleh,” kata Sekretaris Komisi Fatwa MUI Jawa Tengah, DR KH Fadlolan Musyafa saat dialog dalam forum kehumasan program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga, di hotel Aston Semarang, Kamis (20/4).

Dalam forum yang digelar oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Tengah tersebut, Musyafa menegaskan, bahwa agama Islam memperbolehkan adanya pencegahan kehamilan. Namun agama melarang adanya memutus kelahiran permanen atau pemandulan permanen.

Ia juga menjelaskan, terdapat delapan alasan diperbolehkannya mencegah kehamilan atau KB. Pertama, bertujuan memberikan pendidikan pada anak yang lebih baik. Artinya, jika kondisi ekonomi terbatas maka agar dapat membekali pendidikan ke anak yang lebih baik, maka tak perlu memiliki banyak anak.

Kedua, lemahnya kondisi wanita atau fisiknya lemah. Ketiga, perempuan yang terlewat subur yang dikhawatirkan memiliki terlalu banyak anak namun kondisi ekonomi tak berbanding lurus. Keempat, suami tak mampu mensejahterakan keluarga.

Kelima, ada penyakit menular di antara suami maupun istri. Keenam, kondisi suami yang sangat lemah dan tak bisa memikul beban keluarga. Ketujuh, untuk memperbaiki atau menjaga penampilan istri agar terlihat menarik. Kedelapan, keberatan memikul beban keluarga karena sudah terlalu banyak anak.

“Jadi KB itu hukumnya mubah (tak dilarang),” katanya.

Untuk persoalan pemandulan permanen, Musyafa menegaskan, para ulama sudah sepakat tak ada yang memperbolehkan. Karena hal itu termasuk mengubah ciptaan Tuhan, apalagi sampai mengubah sistem jaringan untuk kelahiran.

Sedangkan diperbolehkannya mencegah kehamilan, lanjutnya, bukanlah memutus kehamilan secara permanen melainkan mengatur angka kelahiran maupun jarak kelahiran.

“Allah juga menyuruh ibu-ibu menyusui anaknya dua tahun, karena ASI itu sangat baik untuk potensi kesehatan dan kecerdasan anak, maka jangan sampai sebelum dua tahun sudah keluar anak lagi, padahal anak itu belum sempurna,” jelasnya. (*)

Editor: Agoes Sumarwah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved