Semenanjung Korea Memanas
Pyongyang: Amerika Hanyalah Gangster Pemeras
Secara teknis, negara itu masih dalam situasi perang dengan Korsel setelah konflik 1950-53 berakhir dengan gencatan senjata, tapi bukan perjanjian
BATAM.TRIBUNNEWS.COM, PYONGYANG - Provokasi Washington dan Pyongyang yang terus membakar kawasan Semenanjung Korea.
Di saat Presiden AS Donald Trump mengucapkan kalimat-kalimat tempur untuk Pyongnyag, negara yang dipimpin diktator Kim Jong Un itu juga terus membalas dengan provokasi.
Pyongyang juga tidak menafikan bahwa mereka saat berada di ambang perang nuklir dengan AS.
Sebuah pernyataan Pyongyang melalui Kantor Berita Korut, KCNA mengatakan bahwa Amerika tak lebih dari”gangster pemeras”.
Korut menyatakan, latihan militer besar-besaran AS dengan Korea Selatan tAk akan menyurutkan negara itu melakukan ujicoba nuklir mereka.
Pyongyang mengingatkan bahwa secara teknis, negara itu masih dalam situasi berperang dengan Korea Selatan setelah konflik 1950-53 mereka berakhir dengan sebuah gencatan senjata, tetapi bukan sebuah perjanjian.
Provokasi Washington yang melakukan latihan perang besar-besaran dengan musuh Korut dinilai sebagai sebuah agresi dan provokasi untuk melanjutkan perang.
"Hanya Amerika Serikat yang telah mendorong situasi di semenanjung itu sampai ke ambang perang nuklir dengan mengadakan latihan militer gabungan terbesar dan agresif selama dua bulan terakhir. Mereka telah membawa semua jenis aset strategis nuklir ke Korea Selatan,” kata KCNA.
'Tidak seorang pun di dunia ini akan menerima seorang gangster yang memeras dengan belati pemiliknya.”
Kenyataan ini, kata KCNA, dengan jelas membuktikan bahwa DPRK melakukan keputusan yang benar untuk memperkuat kekuatan nuklirnya, baik secara kualitas dan kuantitas.
“Kekuatan nuklir DPRK adalah pedang keadilan dan penghalang perang yang andal untuk mempertahankan kedaulatan dan martabat negara dari ancaman perang nuklir yang diajukan oleh AS.”
Sikap dua pemimpin negara yang sama-sama keras kepala ini telah membuat negara-negara Asia Tenggara dan China cemas.
Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengatakan bahwa situasio bahaya di semenanjung Korea dapat meningkat hanya dalam satu hari menjadi tidak terkendali.
China, satu-satunya sekutu utama Korea Utara, merasa semakin tidak nyaman dengan berbagai provokasi yang terjadi dalam dua bulan terakhir.
Amerika Serikat meminta China untuk berbuat lebih banyak untuk mengendalikan Pyongyang.
Namun, China sendiri juga dalam posisi tegang sehingga selain terus membujuk Jong-Un, mereka juga mengerahkan kekuatan ke daerah perbatasan.
China disebut-sebut trlah menyiagakan 150 ribu pasukan dan melakukan latihan militer di bagian timur negara itu.
Beijing juga memperingatkan Pyongyang bahwa pihaknya juga akan menjatuhkan sanksi sepihak jika provokasi nuklir terus berlanjut.
Pertanyaannya, apakah diplomasi China bisa melunakkan sekutunya?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/parade-militer-korea-utara_20170416_011833.jpg)