TribunBatam/

Hangout

Wisata Religi di Klenteng Pek Kong Keng

Setiap menjelang hari besar Budha, seperti Waisak, vihara ini selalu dipercantik agar memberikan kesan kepada pengunjungnya.

Wisata Religi di Klenteng Pek Kong Keng
TRIBUN BATAM/ANDRIANI

SELAMAT merayakan Hari Besar Waisak dan selamat libur di hari Kamis ini. Mengisi liburan, Vihara Budhi Bakhti yang berlokasi di Windsor, Penuin, menjadi satu diantara destinasi wisata rohani di Batam.

Vihara ini sudah berdiri selama 30 tahun lamanya. Setiap menjelang hari besar Budha, seperti Waisak, vihara ini selalu dipercantik agar memberikan kesan kepada pengunjungnya.

Vihara ini juga dikenal dengan nama Klenteng Pek Kong Keng, simbol perlindungan. Pek Kong Keng banyak disembah umat Budha baik lokal maupun dari luar negeri.

Sebagai dekorasi hari besar ini, manajemen menghiasi vihara dengan lampion. Uniknya di setiap lampion tersebut diberi nama yang diambil dari nama-nama para donator.

Menurut Hartono selaku pengurus vihara mengatakan, lukisan nama-nama di lampion menjadi ungkapan simbolis dan penghargaan pengurus vihara kepada para donator yang telah memberikan rezeki mereka ke vihara Budhi Bakhti.

“Ini sekadar ucapan terima kasih kami kepada para donator selama ini, setiap menjelang imlek kami perbarui. Tapi tidak semua, tergantung permintaan dari para donator atau ada donator baru,”kata Hartono pada Tribun, Rabu (10/5).

Dia menambahkan umat Buddha menyakini bahwa Pek Kong Keng pernah ada. Ia diyakini membantu umat Budha dalam segi pemberian rezeki, kesehatan dan keselamatan. Pek Kong juga diyakini memiliki aura yang positif dan energi sehingga bisa menjadi dewa.

Bagi umat Budha yang datang sembahyang, biasanya membawa persembahan baik bunga atau buah dan hio. Urutan sembahyang, dimulai dari depan lalu ke pinggir kiri kanan, masuk ke dalam dan menancapkan hio. Terakhir persembahan di depan Pek Kong Keng.

Selain ritual menancapkan hio di beberapa sisi, persembahan buah atau bunga melambangkan kewibawaan dan kebijaksanaan. Sembahyang juga dilakukan dengan menyalakan lilin dan membakar kertas di pagoda depan klenteng.

Hartono juga mengatakan, klenteng ini menjadi tempat pemujaan terhadap Dewa-Dewi.

Halaman
123
Penulis: andriani
Editor: Tri Indaryani
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help