TribunBatam/

TANJUNGPINANG TERKINI

Saya Sudah Gagal, Tidak Bisa Jadikan Arya Seorang Tentara

Kematian Arya membuat Winer begitu terpukul. Ayah tiga anak itu bahkan mengaku gagal karena tidak bisa menjaga Arya dan menuntunnya mencapai cita-cita

Saya Sudah Gagal, Tidak Bisa Jadikan Arya Seorang Tentara
Winer Siagian duduk di depan kamar jenazah RSUP Kepri Tanjungpinang. Putra keduanya, Arya Siagian, tewas setelah terseret arus, Kamis (11/5/2017). 

Laporan Thomlimah Limahekin

BATAM. TRIBUNNEWS.COM, TANJUNGPINANG - Winer Siagian duduk terpekur persis di luar pintu kamar mayat RSUP Kepri, Jumat (12/5) petang.

Wajah pria itu lusuh; matanya sembab dengan bola mata memerah.

Dia hanya menundukkan kepala tanpa bisa melihat ke dalam kamar mayat.

Kedua tangannya meremas-remas peci dengan warna dasar hitam yang sebelumnya sempat dilucutinya dari kepala.

Dia hanya membisu, beberapa kali mengangguk-anggukkan kepala setelah mendengar kata-kata penguatan dari kerabatnya.

“Sabar. Bersyukurlah, dia sudah ditemukan,” ucap seorang wanita yang berdiri di dekatnya.

Tak lama berselang, pintu kamar mayat pun dibuka oleh petugas.

Jenazah Arya Mahesa Siagian, putra keduanya itu, dibawa keluar menggunakan keranda yang dibaluti kain hijau.

Winer tak kuat menahan air matanya.

Untuk sekian kalinya, pria itu menangis, tanpa suara yang keluar dari mulutnya.

Dengan langkah gontai, dia memasuki mobil ambulance yang terparkir tepat di depan pintu ruangan jenazah.

Beberapa saat kemudian, keranda mayat pun dimasukkan ke mobil ambulance.

Winer yang sudah duduk di dalam mobil langsung merengkuh keranda itu dengan kedua tangannya.

Dia lalu menyadarkan kepalanya di atas keranda. Matanya tertutup; mulutnya berkomat-kamit.

Kematian Arya membuat Winer begitu terpukul. Ayah tiga anak itu bahkan mengaku gagal karena tidak bisa menjaga Arya dan menuntunnya mencapai cita-cita.

“Saya sudah gagal. Karena saya tidak bisa membawanya mencapai cita-citanya jadi tentara,” ujar Winer.

Arya merupakan anak ke dua dari tiga bersaudara.

Baca: ‎BREAKINGNEWS: Bocah Usia 5 Tahun Hilang Terseret Arus Parit Perumahan Mahkota Alam Raya!

Sewaktu masih hidup, Arya kerap mengutarakan cita-citanya kepada Winer.

“Dia ingin menjadi tentara,” ucap Winer sambil menahan pilu.

Arya Mahesa Sakti Siagian, bocah hanyut saat dipotret ayahnya memakai seragam tentara.
Arya Mahesa Sakti Siagian, bocah hanyut saat dipotret ayahnya memakai seragam tentara. ()


Cita-cita anak kesayangan itu didukung sepenuhnya oleh Winer.

Pada acara pawai anak-anak PAUD, beberapa hari lalu, Arya mengenakan seragam tentara yang dibeli oleh ayahnya.

“Saya beli sendiri seragamnya itu; saya tidak pakai pinjam. Kawan-kawannya yang lain banyak yang pinjam,” tutur Winer.

Seragam militer ini sekaligus menjadi hadiah ulang tahun dari seorang ayah untuk sang anak. Arya genap berusia enam tahun pada Selasa (16/5/2017) mendatang.

Aksi Arya yang berseragam militer sempat diabadikan Winer dalam sebuah jepretan kamera handphonenya.

Itulah satu-satunya foto Arya yang disimpan oleh ayahnya.

“Semuanya hanya tinggal kenangan. Saya sudah gagal,” ungkap Winer menyesal.

Di mata Winer, Arya adalah anak yang paling semangat jika dibandingkan dengan kakak laki-laki dan adik perempuannya.

Semangat itu selalu ditunjukkan Arya setiap kali ketiganya berlari mengelilingi komplek Perumahan Mahkota Alam Permai, di mana mereka tinggal.

“Dia paling semangat berlari. Karena dia mau jadi tentara,” kenang Winer.

Namun, Arya mengalami musibah saat bermain bersama kakaknya di bawah guyuran hujan, pada Kamis (11/5/2017) pagi.

Dia terjatuh ke dalam parit dan terseret air yang mengalir deras di dalam parit yang sempit itu.

Dia hilang lebih dari sehari.

“Saya sudah pasrah. Yang penting anak saya bisa ditemukan dalam keadaan apapun, itu sudah cukup,” ujar Winer putus asa, sesaat sebelum Arya ditemukan.

Jasad Arya ditemukan oleh tim SAR dan masyarakat di bawah jembatan kecil menuju kampung Sidomulyo pada Jumat siang.

Kondisinya sangat memprihatinkan. Ada luka di bagian kepala dan bekas jeratan tali di bagian leher.

Penulis: Thom Limahekin
Editor: Alfian Zainal
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help