Premium Tiba-tiba Menghilang di Tanjungpinang. SPBU Kejar Terget Pertalite?

Sejumlah SPBU sama sekali tidak menjual bahan bakar jenis ini dan justru menawarkan bahan bakar pertalite kepada masyarakat.

Premium Tiba-tiba Menghilang di Tanjungpinang. SPBU Kejar Terget Pertalite?
Premium habis di SPBU Kijang. Hampir seluruh SPBU di Tanjungpinang dan Bintan kosong sehingga konsumen beralih ke pertalite. 

Laporan Thomm Limahekin

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, TANJUNGPINANG - Bahan bakar premium mendadak kosong di semua stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Tanjungpinang dan Bintan.

Sejumlah SPBU sama sekali tidak menjual bahan bakar jenis ini dan justru menawarkan bahan bakar pertalite kepada masyarakat.

Hal tersebut mengakibatkan antrean kendaraan di tempat pengisian pertalite mengular, sementara di tempat pengisian premium terpampang tulisan ‘premiun habis’.

”Selama ini saya sering mengisi bahan bakar pertalite. Antreannya tidak panjang. Bahkan pas tiba di SPBU, saya langsung mengisi pertalite. Tapi sekarang antrean orang untuk mengisi pertalite panjang sekali,” ungkap Erita, seorang ibu rumah tangga di jalan Ganet, Selasa (16/5/2017) siang.

Erita mengaku sempat membaca status kawan Facebook-nya sepekan silam tentang kelangkaan bensin dan penjualan pertalite.

Awalnya dia sama sekali tidak menyangka kalau persediaan premium habis dan pasokan pertalite malah menjadi bahan bakar andalan di setiap SPBU.

Namun, setelah melihat antrean panjang di tempat pengisian pertalite, Erita akhirnya sadar kalau hampir semua SPBU di Tanjungpinang mulai mengurangi pasokan premium.

Kelangkaan premiun ini juga mengusik wali kota Tanjungpinang H Lis Darmansyah.

Dia langsung memerintahkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Tanjungpinang untuk menggelar rapat bersama Pertamina.

Laporan hasil rapat tersebut membuat Lis akhirnya tahu bahwa ternyata Pertamina mengeluarkan kebijakan untuk mengurangi pasokan premium dan menawarkan SPBU untuk menjual pertalite.

“Jadi, ini adalah kebijakan yang diambil secara sepihak oleh Pertamina tanpa berkoordinasi dengan pemerintah daerah (Pemda) dan mensosialisasikannya kepada masyarakat,” ujar Lis di sela-sela acara Koordinasi dan Supervisi bersama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Kantor Gubernur Kepri, Pulau Dompak, Selasa siang.

Lis membeberkan, setiap SPBU ternyata berlomba-lomba menjual pertalite sesuai target yang diberikan oleh Pertamina.

Sebab, dari penjual pertalite sesuai target tertentu, setiap SPBU akan mendapatkan biaya perolehan sebesar 30 persen dari hasil penjualan.

“Ini adalah hasil permainan dan monopoli pihak tertentu. Tetapi itulah, sekarang wewenang pengawasannya tidak ada lagi di pemerintah kabupaten/kota, tetapi di provinsi,” tegas wali kota Tanjungpinang tersebut.

Kondisi kelangkaan premium dan penjualan pertalite ini justru mengejutkan kepala Disperindag Kepri, Burhanuddin.

Dia mengatakan, Disperindag Kepri secara resmi belum menerima laporan dari Pertamina mengenai kebijakan tersebut.

Karena itu, dia langsung menerjunkan para stafnya untuk melakukan survei lapangan, baik ke Batam maupun ke Dumai.

”Saya belum menerima laporannya. Namun saya meminta kepada Pertamina agar selalu berkoordinasi dengan kami dalam mengambil kebijakan. Sebab, kebijakannya itu berdampak pada masyarakat,” kata Burhanuddin.

Penulis: Thom Limahekin
Editor: Alfian Zainal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved