TribunBatam/

Intimidasi Media Sosial

Persekusi Terhadap Netizen Makin Masif dan Sistematis, Apa Maksudnya?

Persekusi itu bukan main hakim sendiri, tapi tindakan memburu orang atau golongan tertentu yang dilakukan secara sewenang-wenang secara sistematis

Persekusi Terhadap Netizen Makin Masif dan Sistematis, Apa Maksudnya?
Tribunnews.com/Theresia Felisiani
Koalisi Anti-Persekusi saat memberikan keterangan pers soal Persekusi yang mengancam kebebasan berpendapat dan demokrasi, Kamis (1/6/2017) di YLBHI, Jl Diponegoro, Jakarta Pusat. 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Koalisi Anti-Persekusi menegaskan, persekusi telah mengancam kebebasan berpendapat dan demokrasi di Indonesia seiring dengan meningkatnya suhu politik dan terpolarisasinya warga.

Damar Juniarti dari SAFEnet yang juga mewakili Koalisi Anti-Persekusi menjelaskan, istilah persekusi yang memang istilah itu belum familiar.

"Istilah Persekusi ini masih awam. Persekusi itu bukan main hakim sendiri, tapi tindakan memburu orang atau golongan tertentu yang dilakukan secara sewenang-wenang secara sistematis atau luas," ucap Damar di kantor YLBHI Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Kamis (1/6/2017).

Damar memaparkan ada empat tahapan dalam melakukan Persekusi.

Pertama ‎penentuan target dengan cara mengajak orang, mendata target yang diburu dan memviralkan target.

Tahap kedua, membuat ajakan berburu dengan memobilisasi dan mengumumkan siapa target yang diburu.

Tahap ketiga mobilisasi di lapangan, memaksa target meminta maaf lalu diviralkan.

Target keempat yakni‎ melakukan pemidanaan target untuk dibawa ke polisi dan minta dilakukan penahanan.

"Jadi Persekusi ini ada tahapan yang sistematis. Mereka buat ajakan mengumpulkan target, umumkan di media sosial, cari orangnya lalu posting," bebernya.

Baca: Perintahkan Tangkap Pelaku Persekusi dan Intimidasi, Kapolri: Jangan Takut, Saya Back Up!

Damar melanjutkan berdasarkan data yang dimilikinya, terjadi 52 orang yang dipersekusi dan dilabel sebagai penista agama atau ulama.

Bahkan kini jumlah persekusi bertambah menjadi 59 orang.

Selain pola mentrackdown target yang dianggap mengina ulama atau agama lalu membuka identitas target, hingga instruksi memburu ternyata ditemukan pula pola data korban yang akunnya dipalsukan.

"Jadi sesungguhnya akun yang dianggap mengina ulama atau agama bukanlah akun yang dibuat oleh orang yang bersangkutan. Beberapa dari mereka ada yang akunnya dipalsukan. Persekusi ini terindikasi sistematis, diketahui dari cepatnya proses dalam menjangkau luasnya wilayah, misalnya dalam satu hari bisa terjadi pola yang serupa di enam wilayah Indonesia padahal berjauhan," bebernya.

Masih menurut Damar, Persekusi jelas mengancam demokrasi karena sekelompok orang mengambil alih negara untuk menetapkan seorang bersalah dan melakukan penghukuman tanpa proses hukum.

‎"Kami monitor data terawal Persekusi itu 27 Januari 2017, dan terakhir 31 Mei 2017. Saat ini sudah ada 59 orang jadi target. Statistik Persekusi setiap bulannya selalu naik. Ini betul-betul harus diwaspadai kalau tidak dihentikan bisa lebih luas lagi," tambahnya.

‎Contoh peristiwa Persekusi yang terjadi baru-baru ini yakni yang dialami oleh dr Fiera Lovita, korban intimidasi ormas FPI dan kelompok lainnya di Solok, Sumatera Barat karena menggunggah pernyataan bernada miring terhadap pimpinan FPI, Rizieq Shihab di akun facebooknya, kini sudah berada di Jakarta.

Setelah sempat bungkam dan tidak memberikan pernyataan ke awak media soal peristiwa Persekusi yang dialaminya, akhirnya di dampingi Koalisi Anti-persekusi, dr Fiera Lovita muncul di YLBHI, Jl Diponegoro, Jakarta Pusat, Kamis (1/6/2017).

Dalam memberikan pernyataan, dr Fiera Lovita didamping oleh Damar Juniarti dari SAFEnet, Asfinawati dari YLBHI, dan Astari Yanuarti dari Mafindo.

Editor: Alfian Zainal
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help