Cahaya Ramadan

Tak Perlu Pamer, Perbuatan Ikhlas Itu Bagaikan Emas

Perbuatan baik yang dilakukan secara ikhlas itu bagaikan emas. Di manapun, emas tetap dihargai orang meskipun terjatuh di lumpur.

Tak Perlu Pamer, Perbuatan Ikhlas Itu Bagaikan Emas
WIKIPEDIA
Komarudin Hidayat 

PERBUATAN baik yang dilakukan secara ikhlas itu bagaikan emas. Di manapun, emas tetap dihargai orang meskipun terjatuh di lumpur.

Sedangkan pekerjaan baik tetapi dijalani karena niat pamer, haus pujian, dan merasa telah menanam jasa pada orang lain, nilai kebaikannya akan rusak. Orang akan segan menaruh respek.

Lebih-lebih jika secara sadar mengungkit dan menghitung-hitung kembali jasa-jasanya. Yang semula laksana emas berubah menjadi perunggu. Tidak lagi berkilau.

Makanya hati-hati pada penyakit yang satu ini, yaitu perasaan dirinya orang baik, orang hebat, dan telah berbuat banyak jasa bagi orang lain, atau lebih luas lagi bagi bangsa dan negara.

Orang bijak bilang, kalau engkau telah berbuat baik, tak perlu kau katakan. Biarlah orang lain yang akan menilai dan menceritakan. Sebaliknya, jika engkau berbuat salah, katakan, akui dan minta maaf.

Mengakui kesalahan dan kekurangan diri tak akan membuat derajat seseorang jatuh. Justru sebaliknya. Tetapi ketika seseorang suka memuji dirinya dan menceritakan yang telah diperbuat untuk masyarakat, justru orang yang mendengarnya cenderung mencibir. Menganggapnya kurang ikhlas dan minta balas jasa.

Yang saya kemukakan itu mudah diamati dalam pergaulan hidup sehari-hari. Bahkan juga dalam cerita kehidupan politik. Ada orang yang senang menonjolkan kelebihan dirinya.

Padahal, tak perlu dikatakan, ibarat pohon yang tinggi, orang akan tahu dan mengakui ketinggiannya, tanpa harus menyebut dirinya tinggi. Pribadi yang selalu haus pengakuan dan pujian hanyalah membuat lelah dan kecewa.

Di negara otoriter, seperti Korea Utara, memang benar-benar terjadi. Rakyat direkayasa untuk memberi tepuk tangan gemuruh memuji presidennya setiap habis pidato.

Ketika melewati patungnya, harus menunduk memberi hormat. Bahkan melipat uang yang ada foto presidennya mesti dihindarkan. Ini saya lihat sendiri ketika 1981 jalan-jalan ke Pyongyang (ibukota Korea Utara) yang saya kira sampai sekarang masih belum berubah.

Halaman
12
Editor: Tri Indaryani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved