Inspirasi

Hormati Mualaf Tionghoa, Masjid Ini Dinamakan Andre Al Hikmah. Kisahnya Mengharukan!

Benar-benar menginspirasi! Hormati Mualaf Tionghoa, Masjid Ini Dinamakan Andre Al Hikmah. Kisahnya Mengharukan!

Hormati Mualaf Tionghoa, Masjid Ini Dinamakan Andre Al Hikmah. Kisahnya Mengharukan!
Kompas.com/Ika Fitriana
Ilustrasi. Masjid Al Mahdi, bergaya mirip Kelenteng, di komplek Perumahan Armada Estate, Kota Magelang, awal Juni 2017 

BATAM. TRIBUNNEWS.COM-Umumnya nama masjid diambil dari bahasa Arab. Namun, sebuah masjid di Desa Wlahar Kulon, Patikraja, Kabupaten Banyumas lain dari biasa.

Baca: Terungkap! Inilah Jawaban di Balik Misteri Kebiasaan Presiden Soekarno Pakai Peci Miring!

Baca: Sangat Membantu! Inilah Tips Memesan Tiket Pesawat Mudik Last Minute. Pergi Rombongan Coba No. 5!

Masjid itu dinamakan unik, Andre Al Hikmah yang merupakan gabungan dua kata dari bahasa berbeda. Nama itu rupanya punya sisi sejarah, juga pesan mendalam bagi umat.

Penggagas masjid Andre Al Hikmah Yusuf Gunawan Santoso (62) mengatakan, nama tersebut adalah pemberian pengurus yayasan serta warga setempat yang berjuang membangun masjid itu. "Andre adalah nama seorang pemuda dari Semarang yang pernah belajar agama di sini," kata pria bernama asli Khoe Ting Ay tersebut, Kamis (8/6).

Diceritakan Gunawan, pada tahun 1997, Andre, seorang pemuda Tionghoa yang masih berumur 16 tahun datang ke Desa Wlahar Kulon untuk belajar agama Islam. Gunawan yang lebih dulu menjadi mualaf serta warga sekitar menyambut positif kedatangan Andre.

Andre memutuskan beberapa waktu tinggal di desa tersebut. Ia melebur dengan warga untuk mengikuti kegiatan zikir serta aktivitas keagamaan lain yang dipimpin Gunawan di Desa Wlahar Kulon.

Keyakinannya terhadap Islam semakin kuat. Andre akhirnya memantapkan diri untuk memeluk Islam dengan membaca dua kalimat sahadat. "Setelah belajar di sini, dia pulang ke Semarang untuk melanjutkan sekolah," katanya.

Baru sebulan Andre menjalankan syariat Islam, ia ditimpa petaka. Andre menjemput ajal dalam sebuah peristiwa kecelakaan lalu lintas.

Beberapa waktu kemudian, Gunawan bersama warga sedang menginisiasi pembangunan masjid di Desa Wlahar. Pembangunan dilaksanakan bertahap karena keterbatasan dana. Gunawan terkejut tetiba dihubungi seorang dari Kota Semarang, Gautama.
Gautama ternyata ayah kandung Andre yang saat itu masih beragama Budha.

Halaman
12
Editor: Agoes Sumarwah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help