Cahaya Ramadan

Kekuatan Iman Untuk Meraih Ketenangan dan Makna Hidup

Keimanan dan kepasrahan pada Allah sangat vital perannya bagi orang yang ingin mendapatkan ketenangan dan makna hidup.

Kekuatan Iman Untuk Meraih Ketenangan dan Makna Hidup
KOMPAS
Komarudin Hidayat 

KEIMANAN dan kepasrahan pada Allah sangat vital perannya bagi orang yang ingin mendapatkan ketenangan dan makna hidup. Dalam ungkapan Jawa, Gusti Allah merupakan sangkan paraning dumadi, asal usul dan tujuan hidup itu sendiri.

Kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Ketika orang merasa sukses dalam karier keduniaan, atau sebaliknya merasa gagal dan terupuruk, selalu muncul pertanyaan eksistensial, bukankah semua serial drama hidup ini nantinya berakhir kematian?

Adakah kehidupan lanjut setelah mati? Kalau ada, adakah hubungan nasib di dunia ini dengan hidup yang baru?

Andaikan mati adalah akhir dari seluruh dari eksistensi dan tak ada lagi kehidupan, lalu untuk apa semua perjuangan hidup ini dijalani?

Setiap orang selalu menyimpan pertanyaan dan kegelisahan yang nalar tak mau memberi jawaban melegakan. Terlalu banyak pertanyaan dan ketidaktahuan terhadap realita semesta dan kehidupan.

Akumulasi pengalaman masa lalu, berbagai cerita orangtua dan ceramah keagamaan, kesemuanya mendorong pada keyakinan mati bukanlah akhir kehidupan. Ada sumber kehidupan yang tak kenal mati dalam diri setiap orang, entah itu namanya ruh, jiwa, atau ada istilah lain.

Begitupun dalam diri setiap orang ada dorongan untuk meraih hidup bermakna baik bagi diri, keluarga maupun masyarakat. Dinamika dan jarak antara cita-cita indah yang tak terbatas dan realita hidup yang mengecewakan selalu memunculkan kegelisahan, kekecewaan dan semangat untuk selalu berjuang.

Keyakinan dan cita-cita mulialah yang selalu memberikan amunisi dan semangat untuk melangkah maju membangun kehidupan lebih baik. Hasil penalaran rasional dan akumulasi pengalaman hidup tetap saja menyisakan teka-teki dan misteri hakikat kehidupan.

Oleh karena itu orang lalu mencari jawab pada agama, yang sentralnya adalah kepercayaan dan keyakinan adanya Tuhan yang serbamaha. Semata berdasarkan penalaran rasional, baik orang percaya akan adanya Tuhan maupun yang tidak percaya, masing-masing memiliki basis argumen yang sulit dikompromikan.

Semakin maju perkembangan ilmu pengetahuan, makin maju pula argumen orang yang mengingkari adanya Tuhan berdasarkan argument saintifik. Jika berbagai teori dan argumen tentang adanya Tuhan dikumpulkan, skornya lebih tinggi dan lebih meyakinkan ketimbang yang mengingkarinya.

Halaman
12
Editor: Tri Indaryani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved