Cahaya Ramadan

Hasrat untuk Maju

Manusia mempunyai naluri tidak mudah puas terhadap wuqtu yang sudah dimilikinya. Dalam makna positif manusia ingin menambah capaiannya lebih baik.

Hasrat untuk Maju
TRIBUN JATENG
Mutohharun Jinan 

MANUSIA mempunyai naluri tidak mudah puas terhadap wuqtu yang sudah dimilikinya. Dalam makna positif manusia ingin menambah capaiannya lebih baik, lengkap, dan sempurna.

Manusia berhasrat untuk maju, berubah, dan berkembang menuju kesempurnaan di masa depan.
Dalam memberikan arahan tentang naluri manusia untuk maju, berubah dan berkembang itu, tampaknya Islam memberikan tekanan berbeda-beda.

Misalnya dalam masalah harta benda dan ilmu pengetahuan. Pandangan Islam tentang capaian harta lebih banyak peringatan agar manusia tidak terlena dan digelincirkan oleh keinginan yang lepas kendali mencari harta benda.

Dalam Alquran dan Hadis banyak disebutkan tentang sifat manusia yang selalu ingin menambah kekayaannya. Bahkan digambarkan, ketika manusia itu mempunyai emas sebesar satu gunung, ia masih ingin menambah emas satu gunung lagi.

Manusia mengira, dengan harta bertumpuk-tumpuk, berlipat-lipat, akan membawanya kepada kebahagiaan hakiki. Namun Alquran memperingatkan, keinginan yang menyala-nyala menumpuk harta itu dapat menjatuhkannya (QS. Al-Humayah/104: 2-5).

Statusnya sebagai makhluk yang mulia dan terhormat bisa jatuh lantaran tidak terkedalinya nafsu kebendaan. Terlebih jika harta itu dikejar menggunakan cara-cara yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya, semisal korupsi, mencuri, merampok, dan tindakan curang lainnya.

Sedangkan dalam hal ilmu pengetahuan dan keterampilan hidup, Islam menekankan agar manusia terus menambah dan menyempurnakannya. Manusia ditantang untuk terus menambah pengetahuan sampai pada batas kemampuan maksimalnya.

Jika dalam harta manusia lebih banyak diperingatkan agar waspada, dalam hal ilmu justru Islam mendorong agar manusia terus menggali dan menambah sebanyak-banyaknya.

Alquran menyatakan, "Wahai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan" (QS. Ar-Rahman/55: 33)

Sifat ilmu itu adalah berubah dari yang sederhana menuju lebih lengkap dan sempurna. Ilmu juga bergerak secara evolutif, dari tidak ada atau belum ditemukan menjadi ada karena penemuan-penemuan baru.
Ilmu pengetahuan merangsang manusia untuk menciptakan hidup lebih baik di masa depan.

Di antara kegunaan ilmu pengetahuan adalah untuk meprediksi dan merancang cara hidup di masa depan.
Berbagai usaha, penelitan, dan percobaan yang dilakukan saat ini pada dasarnya untuk meraih masa depan yang lebih maju. Hal ini sejalan dengan nilai ibadah puasa yaitu manusia harus memperhatikan kehidupan masa depannya.

Spirit ibadah puasa pada dasarnya adalah mengajak dan mendidik manusia untuk memilki wawasan serta orientasi hidup ke masa depan. Balasan-balasan yang dijanjikan Allah dan Rasulnya terhadap orang yang berpuasa akan diberikan pada kehidupan di akherat kelak, selain ada hikmah-hikmah yang langsung dirasakan saat ini. (*)

Oleh: 

Mutohharun Jinan
Dosen Pascasarjana Unmuh Surakarta

Editor: Tri Indaryani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved