Cahaya Ramadan

Musibah Kolektif

Orang-orang beriman hendaknya menghawatirkan datangnya fitnah (bencana) yang menimpa tidak hanya pada orang zalim.

Musibah Kolektif
TRIBUN JATENG
Mutohharun Jinan 

ALLAH SWT mengingatkan akan datangnya musibah kolektif. Orang-orang beriman hendaknya menghawatirkan datangnya fitnah (bencana) yang menimpa tidak hanya pada orang zalim.

Musibah dan penderitaan bisa muncul sebagai dampak perilaku sebagian orang yang berbuat maksiat. Disebutkan dalam Alquran, "Dan hindarilah siksa yang sekali-kali tidak menimpa secara khusus orang-orang yang zalim di antara kamu. Dan ketahuilah Allah sangat keras siksaan-Nya" (QS. Al-Anfal/8: 25).

Tidak terlalu sulit menemukan fakta di lapangan perihal dampak kolektif terhadap orang yang zalim atau maksiat. Terlebih jika yang berbuat zalim itu orang-orang yang diberi amanah memimpin masyarakat.

Ambil saja contoh yang mudah dan kelihatan, misal musibah tabrakan kendaraan. Kecelakaan bisa terjadi akibat kesalahan dilakukan satu pihak yang ugal-ugalan atau menerobos rambu-rambu. Bahkan kelalaian seorang pengendara bisa mengakibatkan kecelakaan beruntun yang melibatkan beberapa pengendara lain meski di jalur yang benar.

Contoh lain dalam ranah kepemimpinan publik, adalah korupsi.

Akibat korupsi sangat luas dan berjangka panjang. Yang mengalami kerugian tidak hanya instansi atau lembaga dipimpinnya saja, tetapi juga instansi mitra kerja lain yang terkait.

Jika korupsi terjadi di instansi pemerintah atau lembaga publik dampaknya jauh lebih dahsyat, rakyat yang menderita dan jauh dari sejahtera. Kezaliman atau kemaksiatan juga terjadi di ranah masyarakat.

Perampokan, pencurian, perjudian, perzinaan dan bentuk kemaksiatan lain yang dilakukan sebagian warga masyarakat secara individual dapat berakibat buruk, keresahan sosial menimpa masyarakat secara menyeluruh.

Hukum keseimbangan dan tata tertib sosial segera mengalami gangguan akibat perilaku individu yang menyimpang. Semakin luas tingkat penyimpangan makin besar pula daya instabilitas yang ditimbulkan.

Dalam konteks ini, ayat Alquran tersebut dapat dipahami agar manusia selalu menghidupkan kontrol sosial. Kontrol sosial berupa saling menasihati dalam kebenaran, saling mengajak kepada kabaikan, mengingatkan dampak buruk kezaliman, serta mencegah kemungkaran.

Sendi-sendi bangunan masyarakat akan lemah jika kontrol sosial melemah. Allah telah menetapkan hukum-hukum alam melalui sunnatullah di alam semesta dan hukum-hukum moral dan sosial melalui perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya.

Apabila ada yang melanggarnya atau tidak selaras dengan hukum-hukum itu, akan timbul kekacauan.Dalam satu riwayat Muhammad Rasulullah SAW memeringatkan, "Tidak satu masyarakat pun yang melakukan kedurhakaan, sedang ada anggotanya yang mampu menegur/menghalangi mereka, tetapi dia tidak melakukannya, kecuali Allah akan segera menjatuhkan bencana menyeluruh atas mereka." (HR Ahmad)

Apabila kemaksiatan meluas, dan tidak yang mengambil inisiatif meluruskannya, berarti masyarakat tidak terusik perasaan dan keberagamaannya. Sikap seperti itu berarti merestui kemungkaran dan menjadikan terlibat secara tidak langsung atas kemungkaran yang terjadi. Kontrol sosial yang ketat turut mencegah musibah yang berdampak kolektif. (*)

*Mutohharun Jinan MAg
Dosen Pacasarjana Unmuh Surakarta

Editor: Tri Indaryani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved