CAHAYA RAMADAN

Peran Pembantu

Gejala ketergantungan pada pembantu pada dasarnya merupakan miniatur kehidupan masyarakat kita.

Peran Pembantu
TRIBUN JATENG
Mutohharun Jinan 

KEHIDUPAN keluarga dan masyarakat perkotaan tidak bisa dipisahkan dari peran pembantu rumah tangga (PRT). Tingkat ketergantungan suatu keluarga terhadap pembantu sama kuatnya dengan ketergantungannya pada perangkat teknologi.

Keluarga majikan tidak bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga yang tidak bisa dilakukan oleh mesin. Di sekitar mudik dan Lebaran tampak suasana kehidupan perumahan di perkotaan lengang dan sepi.

Ketika pembantu pulang kampung, majikan tidak mampu merawat rumahnya sendiri, untuk sekadar menjaga keamanan maupun merawat kebersihannya. Pemiliki rumah memilih menutup rumah rapat-rapat dan membiarkannya dalam keadaan kotor berhari-hari sambil menunggu pembantu kembali.

Gejala ketergantungan pada pembantu pada dasarnya merupakan miniatur kehidupan masyarakat kita. Bahwa hidup ini berjalan normal jika masing-masing subsistem kehidupan memainkan peran sesuai dengan tugasnya.

Tak terkecuali dalam kehidupan berbangsa, satu bagian saja tidak menjalan fungsinya atau menyimpang dari peran asasinya, akan muncul guncangan yang dapat membahayakan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pembantu yang biasa melakukan pekerjaan-pekerjaan teknis harian di rumah mempunyai andil sangat besar bagi kelancaran aktivitas lain di luar rumah. Sadar atau tidak, berbagai aktivitas kita sehari-hari tidak tidak lepas dari peran-peran domestik.

Cobalah perhatikan, pagi-pagi sebelum berangkat kerja bila sudah tersedia sarapan, Anda berpakaian rapi, dan mobil Anda bersih. Sehingga Anda tampil penuh percaya diri di hadapan publik.

Semua itu yang menyiapkan pembantu sebelum anda bangun tidur. Hanya, peran pembantu sering diabaikan dan dianggap remeh-temeh meski bisa membuat kehidupan ini lebih berdaya pikat. Hal ini barang kali disebabkan peran pembantu di ranah domestik, sedangkan orang lebih banyak melihat dan terpukau apa yang tampak di ruang publik.

Artinya, panggung kehidupan dengan berbagai kejadian dan peristiwa yang tampak gemerlap ternyata tidak terjadi begitu saja.

Ada proses dan peran-peran di balik panggung kehidupan. Peran-peran dan proses yang penting ini sering kali dilupakan dan dianggap remeh keberadaannya.

Tampaknya memang kecenderungan masyarakat kita lebih tertarik kepada hal-hal yang tampil di permukaan saja, tidak mau memahami lebih mendalam. Padahal yang tampak di permukaan bisa bersifat sementara. Masyarakat kita lebih tertarik melihat hasil yang sudah tersedia daripada melihat proses.

Sikap mental mengabaikan proses dan peran-peran domestik dalam berbagai peristiwa berimplikasi pada semakin menguatnya budaya serba instan. Orang ingin segala sesuatu dicapai secara cepat dan mendapatkan hasil maksimal.

Bila perlu berbagai cara dilakukan, tidak peduli cara itu halal atau haram, benar atau salah, yang penting mendapatkan hasil yang diinginkan. Di antara hikmah puasa bagi kehidupan adalah mendidik agar kita tidak terpukau pada budaya instan.

Ibadah puasa mendidik untuk memahami dan merasakan proses secara urut serta terukur. Derajat ketakwaan yang dijanjikan bagi orang yang berpuasa dapat diperoleh setelah melalui mekanisme niat yang tulus, sabar, menghindari hal-hal yang dapat mengurangi nilai puasa, serta memperbanyak ibadah disunnahkan. (*)

*Dr Mutohharun Jinan MAg
Dosen Pascasarjana Unmuh Surakarta

Editor: Tri Indaryani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved