Benarkah Membawa Warga Tambelan Sakit ke Kalimantan Dilarang? Ini Pengakuan Anggota DPRD Bintan!

Benarkah Membawa Warga Tambelan Sakit ke Kalimantan Dilarang? Ini Pengakuan Anggota DPRD Bintan!

Benarkah Membawa Warga Tambelan Sakit ke Kalimantan Dilarang? Ini Pengakuan Anggota DPRD Bintan!
tribunbatam/aminnudin
Bupati Bintan meresmikan pengoperasian dua kapal yang berfungsi sebagai Puskesmas terapung 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, BINTAN-Bagian Ekonomi Pemkab Bintan belum memberikan tanggapan terkait problem gas elpiji yang mendera Kecamatan Tambelan saat ini. Pesan yang dikirimkan Tribun ke Kabag Ekonomi Pemkab Bintan Eddi Mulyanto belum ditanggapi.

Baca: Curiga Istri Selingkuh, Pria Ini Pergoki Istrinya Lagi Beginian di Ranjang Pria Lain!

Baca: Kepergok Tiduri Istri Orang, Pejabat Pemko Ini Langsung Dicopot Jabatannya!

Baca: Mengejutkan! Jadi Pengawal Christiano Ronaldo, Hal Ini Paling Ditakuti Bodyguard Asli Indonesia Ini

Baca: Viral Pengakuan Remaja 16 Tahun Nikahi Nenek 71 Tahun, Dia Sempat Ancam Begini!

DPRD Bintan sendiri sudah bersuara. Anggota Komisi I DPRD Bintan Hasriawady menyatakan, apa yang terjadi di Tambelan saat ini perlu ditangani dengan langkah cepat.

Hasriawadi pada Selasa (4/6) baru saja pulang dari Tambelan dan mendapatkan gambaran utuh kondisi yang ada. Dengan menempu perjalanan 8 jam dengan kapal cepat, Hasriawady bertemu dengan masyarakat di sana.

Ada dua persoalan pokok yang saat ini mendera Tambelan yang terungkap dalam pertemuannya dengan masyarakat. Pertama krisis listrik, kedua kelangkaan gas elpiji dan bahan bakar minyak (BBM).

Catatan dia, krisis listrik di Tambelan mulai terjadi akhir April lalu. Sampai sekarang belum teratasi. Sementara untuk bahan bakar, pertalite sebagai salah satu yang tersedia di sana harganya melambung jauh dibanding harga kepantasan.

"Harga satu botol pertalite di Tambelan Rp 23.000,"kata Gentong, sapaan Hasriawady.

Di Tambelan belum tersedia stasiun pengisian bahan bakar resmi atau SPBU. Jangankan SPBU, APMS pun belum tersedia. BBM masih dijual di warung warung dalam bentuk eceran botol.

Stok bahan bakar dipasok dari Kalimantan Barat melalui kapal nelayan. Laporan masyarakat di sana, kapal nelayan lokal di Kalimantan Barat yang hendak ke Tambelan dilarang membawa sembako dan penumpang.

"Jangankan penumpang, membawa warga yang sakit pun untuk dirujuk ke rumah sakit di Kalimantan pun dilarang,"ujarnya.(*)

Penulis: Aminnudin
Editor: Agoes Sumarwah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved