Kasus Sabu 80 Kilogram

Hakim Pinang Vonis Seumur Hidup, Hakim Pekanbaru Hukum Mati. Ini Komentar PN Pinang!

Hakim Pinang Vonis Seumur Hidup, Hakim Pekanbaru Hukum Mati. Ini Komentar PN Pinang!

Hakim Pinang Vonis Seumur Hidup, Hakim Pekanbaru Hukum Mati. Ini Komentar PN Pinang!
tribunbatam/wahib waffa
Ilustrasi. Dua terdakwa narkoba 80 kilogram, Edo dan Idrizal saat menjalani persidangan di PN Tanjungpinang, Selasa (15/11/2016) 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, TANJUNGPINANG-Hakim banding Pengadilan Tinggi Riau di Pekanbaru memperberat vonis penjara seumur hidup Pengadilan Negeri Tanjungpinang kepada kedua terdakwa sabu 80 kilogram.

Baca: Mengejutkan! Jadi Pengawal Christiano Ronaldo, Hal Ini Paling Ditakuti Bodyguard Asli Indonesia Ini

Baca: Curiga Istri Selingkuh, Pria Ini Pergoki Istrinya Lagi Beginian di Ranjang Pria Lain!

Baca: Terungkap! Inilah 5 Alasan Song Joong Ki Kebelet Nikahi Song Hye Kyo!

Baca: Viral Pengakuan Remaja 16 Tahun Nikahi Nenek 71 Tahun, Dia Sempat Ancam Begini!

Terungkap sindikat peredaran sabu internasional dari Malaysia‎ beberapa bulan lalu di Tanjungpinang oleh BNN pusat dengan jumlah berat sabu hampir 80 kilogram. Jaringan ini diakui oleh dua terdakwa Idrizal Efendi dan Edo Ronaldi telah tiga kali menjalankan aksinya menyelundupkan dari Pekanbaru ke Tanjungpinang.

Sidang pun digelar di Pengadilan Negeri Tanjungpinang ‎dan majelis hakim yang saat itu dipimpin oleh Wahyu Nugroho yang juga kepala PN Tanjungpinang menetapkan putusan hukuman seumur hidup kepada kedua terdakwa. Jaksa yang tak terima putusan seumur hidup atas tuntutan hukuman mati lantas mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Pekanbaru, Riau.

Putusan pun mengejutkan dikeluarkan oleh Pengadilan Tinggi, dimana persidangan yang diketuai oleh Sardin Rizaldi didampingi oleh dua anggotanya Santun Simamora dan Irianto‎. Dimana putusan tersebut menyatakan bahwa kedua terdakwa terbukti bersalah dan dihukum mati.

Santonius Tambunan hakim sekaligus humas PN Tanjungpinang membenarkan putusan hukuman mati yang diterima oleh kedua terdakwa. Dimana dalam putusan itu memiliki pertimbangan dan cara pandang yang berbeda antara PN Tanjungpinaang dan PT Pekanbaru.

"Benar memang diberi hukuman mati. Kita juga sudah terima salinan putusan dari PT. Dimana ada beberapa pertimbangan mengapa keduanya diberi hukuman mati," ujar Santonius Tambunan ditemui di PN Tanjungpinang, Kamis (6/7).

Sebelumnya putusan PN Tanjungpinang menitik beratkan bahwa keduanya merupakan kurir dan bukanlah bos dari sindikat tersebut. ‎Namun PT punya cara pandang yang dianggapnya perbuatan kedua terdakwa sudah tidak dapat ditolerir dengan jumlah barang bukti yang sangat besar.

"Pertimbanganya adalah berat‎ jumlahnya yang banyak. Poinya itu saja yang memberatkan hingga dihukum mati. Putusan PN tidak sebanding dengan jumlah barang buktinya," tambahnya.

Aksi terdakwa ini pun telah dilakukan berulang kali dengan modus yang sama dan berhasil membawanya ke beberapa daerah termasuk Jakarta. ‎ Kedua terdakwa yang selama ini berdomisili di Batam ini pun rencananya akan mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung.

"Kita belum terima salinan putusan itu. Kalau memang benar kita akan ajukan ‎kasasi ke Mahkamah Agung RI," ujar kuasa hukum terdakwa Agus Supriyanto dikonfirmasi melalui sambungan telefon. (*)

Penulis: Wahib Wafa
Editor: Agoes Sumarwah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help