Cegah Paham Radikal, Ini Usulan Sistem Kurikulum Tepat Menurut Menteri Sosial

Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa menilai, sudah saatnya Indonesia menerapkan proses belajar mengajar dengan sistem kurikulum ini.

Cegah Paham Radikal, Ini Usulan Sistem Kurikulum Tepat Menurut Menteri Sosial
KOMPAS.COM
Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa di sela acara halal Bihalal PP Muslimat NU sekaligus peringatan Hari Anak Nasional di Gedung Konvensi, Taman Makan Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, Minggu (16/7/2017). 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa menilai, sudah saatnya Indonesia menerapkan proses belajar mengajar dengan sistem kurikulum terintegrasi.

Hal ini disampaikan Khofifah menanggapi sejumlah survei yang mengindikasikan bahwa benih radikalisme di kalangan remaja Indonesia sudah dalam tahap mengkhawatirkan.

Harapannya, menurut Khofifah, terintegrasinya antar-mata pelajaran dapat mencegah perkembangan paham radikal dan intoleran. Di sisi lain, sistem ini juga diharapkan bisa dijalankan sekaligus untuk memperkuat nasionalisme.

"(Hasil survei) sudah cukup menjadikan untuk kita mempertimbangkan proses pendidikan formal di SMP maupun SMA serta Perguruan Tinggi yang bisa mengintegrasikan program studi atau bidang ajar dengan format bangunan nasionalisme," kata Khofifah di Gedung Konvensi Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta Selatan, Minggu (16/7/2017).

Baca: Sudah Serahkan 99 Dokumen Bukti, Hari Ini Putusan Sidang Praperadilan Hary Tanoe

Baca: VIRAL. Lagi, Sopir Taksi Lakukan Sweeping. Nyaris Baku Hantam di Nagoya Hill

Baca: Kapolri ke Batam Ekspose Langsung Penangkapan Kapal Motor Wanderlust? Ini Jawaban Polda Kepri

Selain berkaitan dengan muatan nasionalisme, menurut Khofifah, pelajaran yang dipelajari siswa juga harus teringrasi dengan peningkatan nilai-nilai spiritual atau keagamaan. Selama ini, menurut Khofifah, mata pelajaran yang diajarkan kepada siswa masih berdiri masing-masing.

Misalnya, dalam mata pelajaran Fisika, para guru hanya mengajarkan sebab-akibat dari suatu fenomena. Padahal di saat yang bersamaan, aspek spiritualitas siswa bisa dibangun dari situ.

Oleh karena itu, seharusnya konsep pengajaran mata pelajaran ke depan lebih terintegrasi. "Kalau sistem yang terintegrasi itu misalnya begini. Kalau guru fisika misalnya cerita gravitasi, kalau ada benda dilempar akan jatuh karena ada gravitasi bumi. Kenapa ada gravitasi bumi? Karena ada kekuatan Tuhan Yang Maha Pencipta," kata Khofifah mencontohkan.

Sebelumnya, mengutip hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), lanjut Khofifah, benih radikalisme di kalangan remaja Indonesia dalam tahap mengkhawatirkan.

Sebanyak 6,12 persen responden menyatakan setuju bahwa pengeboman yang dilakukan Amrozi cs merupakan perintah agama. Sementara 40,82 persen responden menjawab "bersedia" dan 8,16 persen responden menjawab "sangat bersedia" melakukan penyerangan terhadap orang atau kelompok yang dianggap menghina Islam.

Kurikulum terintegrasi memang sudah menjadi isu lama di Indonesia. Metode ini memungkinkan siswa baik secara individual maupun secara klasikal aktif menggali nilai-nilai dari berbagai sisi.

Dengan cara itu, siswa bisa mendapatkan pengetahuan secara menyeluruh dan memiliki keterampilan mengaitkan satu pelajaran dengan pelajaran yang lainnya. Pada akhirnya, siswa bisa memandang persoalan secara menyeluruh. (*)

*Berita di atas sebelumnya telah dipublikasikan di Tribunnews.com dengan judul : Khofifah Berharap Kurikulum Terintegrasi Mampu Memperkuat Nasionalisme

Editor: Tri Indaryani
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved