TribunBatam/

Motion

Gasing Tradisional, tak Lekang Dimakan Zaman

Jika dahulunya hanya terbuat dari kayu, di era modern ini, gasing sudah dibuat dari bahan besi yang diklaim lebih tahan lama.

Gasing Tradisional, tak Lekang Dimakan Zaman
TRIBUNBATAM/SEPTYAN MULIA ROHMAN
Motion 

Ia menceritakan, Komunitas Gasing Desa Tarempa Barat muncul secara spontan karena memang beberapa warga di desan ini sangat senang dengan gasing.

Anggota komunitas ini sudah banyak bertanding gasing desa-desa lain. Mereka paling sering main di lapangan Tanjung Momong Desa Tarempa Timur Kecamatan Siantan, tidak jauh dari lokasi rumah pribadi Bupati Kabupaten Kepulauan Anambas, Abdul Haris.

Permainan yang mereka lakukan, ternyata banyak menarik minat masyarakat untuk menonton. Alhasil, warga juga banyak yang ikut bermain dan bergabung dengan komunitas tersebut, baik anak-anak maupun orang tua.

Permainan gasing komunitas ini pun sempat diliput sejumlah media televisi dan tayang di stasiun TV swasta. Sejumlah anggotanya juga telah berhasil menjuarai berbagai turnamen di tingkat kabupaten Anambas. (*)


Kuncinya Kuda-Kuda dan Kekuatan Tangan

BERMAIN gasing tradisional tidaklah semudah yang dilihat. Ada teknik tersendiri dalam bermain gasing. Salah satu kuncinya terletak pada kuda-kuda serta kekuatan tangan sehingga membuat gasing dapat berputar lebih lama.

"Main ini tergantung kekuatan tangan. Saya pun kurang paham betul kalau ditanya mengenai teknik bermain ini," jelas Azid seraya tersenyum.

Seorang pecinta gasing lainnya, Mustafa menambahkanterdapat sedikit perbedaan antara permainan gasing tradisional dulu dengan permainan gasing pada saat sekarang ini. Perbedaannya itu salah satunya terletak pada aturan main dan arena tempat beradu gasing

"Kalau dulu itu main tak beratap. Dulu kalau mau main ya buat sendiri. Kalau sekarang arenanya sudah jauh lebih bagus. Ada atapnya, ada jaring. Kalau dulu bebas, sekarang ini ada aturannya," Mustafa yang sudah berusia 70 tahun.

Azid menambahkan, lama putaran gasing normalnya bisa mencapai 20 menit. Bila berasal dari kayu yang bagus, gasing yang telah diputar tetap akan bertahan meski sudah diserang lawat dengan lama putar mencapai 16 menit.

Terdapat beberapa kategori yang biasa diperlombakan serta masuk dalam turnamen. Mulai dari banyaknya mangkak (atau menyerang lawan) hingga adu lama dalam berputar. Biasanya, gasing paling banyak melakukan serangan antra 16 sampai 17 mangkak. Nantinya, akan dilihat gasing yang terkena serangan apakah dapat bertahan dengan masih dapat berputar atau tidak. (*)


Gasing Laki-laki dan Perempuan

Bentuk gasing tradisional yang biasa dimainkan di Anambas terdiri dari dua jenis yakni laki-laki dan perempuan. Azid mengatakan, masing-masing dari jenis gasing ini memiliki peranan yang berbeda.
Gasing laki-laki yang bentuknya lebih tinggi dibandingkan gasing perempuan berfungsi untuk menyerang atau biasa masyarakat Anambas menyebutnya dengan istilah 'mangkak'.

"Kalau perempuan, bentuknya sedikit pipih dibandingkan gasing laki-laki. Nah, perempuan ini untuk bertahan," ujarnya.

Ukuran serta berat gasing pun, memiliki persyaratan yang tidak boleh dilupakan. Untuk jenis laki-laki dan perempuan memiliki ukuran sama 10 inchi. Sementara, untuk berat dibatasi maksimal 2,6 ons.

"Ukurannya tidak boleh lebih. Untuk berat, kurang tidak apa-apa. Lebih yang tidak boleh," bebernya seraya menunjukkan gasing andalannya dengan berat dua ons empat gram.

Tidak hanya material kayu yang diperlukan dalam proses pembuatan gasing, tapi juga jarum. Jarum ini diletakkan pada bagian bawah dan diperlukan agar gasing dapat berputar lebih lama. Proses ini pula, yang diakui Azid memerlukan ketelitian dan ketepatan dalam membuatnya.

"Ada jarum di bawahnya, jarumnya pun khusus. Kalau masukkan jarumnya tepat, ketika gasing diputar, dia diam dan berputar sempurna. Kalau tidak bisa memasangnya, alamat tidak jadi gasing itu," bebernya.

Selain itu, diperlukan pemberian minyak pada gasing yang telah jadi agar gasing awet dan berat gasing tidak menjadi susut.
"Kalau diberi minyak kayunya tidak kering. Minyak goreng pun boleh, yang penting minyak," ungkapnya.

Bahan untuk membuat gasing tradisional ini pun, berasal dari kayu Pelawan. Untuk mendapatkan kayu ini, Azid harus memesannya dari Ranai, Kabupaten Natuna.

Ia menjelaskan, kayu dipilihnya kayu Palawan karena kualitas dan daya tahannya yang lebih lama dibandingkan dengan kayu jenis lainnya.

Untuk membuat satu buah gasing, Azid mengaku membutuhkan waktu selama lebih kurang satu jam dengan menggunakan alat yang telah dimofikasi menggunakan mesin dinamo agar bentuk gasing sempurna dan presisi.

“Untuk kayu jenis lain bisa juga dibuat gasing, tetapi tidak bagus jadinya,”kata Azid.

Saat ini, keterampilan membuat gasing telah diturunkannya kepada anaknya yang bernama Andi (22). Azid mengaku, sudah tidak selihat sebelumnya dalam membuat gasing karena penglihatannya kurang baik. (*)

Penulis: Septyan Mulia Rohman
Editor: Tri Indaryani
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help