TribunBatam/

Maryam Mirzakhani, Ilmuwan Matematika Asal Iran Ini Meninggal Dunia karena Kanker Payudara

Maryam Mirzakhani, berusia 40 tahun, dan merupakan profesor di Universitas Stanford, menderita kanker payudara yang telah menyerang tulangnya

Maryam Mirzakhani, Ilmuwan Matematika Asal Iran Ini Meninggal Dunia karena Kanker Payudara
MARYAM MIRZAKHANI untuk BBC
Maryam Mirzakhani, berusia 40 tahun, dan merupakan profesor di Universitas Stanford, menderita kanker payudara yang telah menyerang tulangnya. 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON DC - Maryam Mirzakhani, perempuan pertama yang meraih penghargaan tertinggi Fields Medal, penghargaan di bidang matematika yang setara dengan dengan hadiah Nobel, telah meninggal dunia di Amerika Serikat, Sabtu (15/7/2017).

Maryam Mirzakhani, berusia 40 tahun, dan merupakan profesor di Universitas Stanford, menderita kanker payudara yang telah menyerang tulangnya.

Dijuluki sebagai Nobel Matematika, Fields Medal hanya diberikan setiap empat tahun kepada antara dua dan empat ahli matematika yang berusia di bawah 40 tahun.

Seorang wanita menyelundupkan 102 iPhone dan 15 jam tangan bermerek Tissot dari Hongkong menuju China daratan dan tertangkap petugas Bea dan Cuka di perbatasan Shenzhen.
Seorang wanita menyelundupkan 102 iPhone dan 15 jam tangan bermerek Tissot dari Hongkong menuju China daratan dan tertangkap petugas Bea dan Cuka di perbatasan Shenzhen. (Oriental Daily/Shanghaiist)

Baca: Wanita China Ini Nekat Selundupkan iPhone dari Hong Kong dengan Cara Aneh Ini

Baca: Nasib Pengungsi Rohingya di Bangladesh Memprihatinkan. Mandi Sekali Seminggu

Baca: VIDEO Detik-detik Gedung Lima Lantai Roboh Diterjang Arus Sungai Saat Banjir

Penghargaan itu diberikan secara khusus kepada Mirzakhani pada 2014 untuk keahliannya di bidang geometri dan sistem dinamika yang kompleks.

Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan kematian Mirzakhani merupakan "kesedihan yang luar biasa," demikian laporan media pemerintah Iran.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan kematiannya menyebabkan kesedihan bagi semua orang Iran.

"Lampu telah kami padamkan hari ini. Hatiku sangatlah hancur... " tulis ilmuwan Iran, Firouz Naderi, dalam akun Instagramnya.

Halaman
123
Editor: nandarson
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help