MOTION

Ibu-ibu Rumah Tangga Ini Impikan Tembesi Pos sebagai Kampung Rajut di Batam

Mereka yang rata-rata adalah ibu rumah tangga tersebut, bersama-sama mengisi waktu luang dengan merajut sehingga mendapatkan tambahan penghasilan

Ibu-ibu Rumah Tangga Ini Impikan Tembesi Pos sebagai Kampung Rajut di Batam
TRIBUNBATAM/ANNEMARIA
Ketua Kelompok Textur Rajut Maria Yohana dan hasil rajutan kelompoknya 

"Koperasi ini kita buat untuk bantu ibu-ibu sekitar juga, daripada meminjam ke rentenir.

Kami mencoba support satu sama lain untuk merdeka secara finansial.

Dimana lagi bisa mengerjakan hobi terus dibayar. Kalau saya pribadi, merajut ini memang hobi. Enjoy dan bisa menghilangkan penat," ucap Maria lagi. (ane)

Rajut Bikin Candu yang Menghasilkan

BANYAKNYA warga yang sudah mendapatkan pelatihan merajut di Tembesi Pos, membuat Maria sebagai inisiator komuntias ini bermimpi suatu hari lingkungan tempat tinggalnya itu bisa menjadi kampung rajut.

Sehingga bisa menjadi ikon baru Kota Batam, dan untuk menambah tempat wisata baru Batam.

"Sebagian warga disini memang sudah bisa semua, karena belajar di sini. Merajut itu mudah, modalnya pun tidak banyak.

Untuk hag pen nya saja cuma seharga Rp 5.000 sampai Rp 30 ribuan.

Benang mulai dari Rp 17 ribu. Kalau semua ibu rumah tangga yang ada disini fokus semua, Tembesi Pos bisa jadi kampung rajut kan," tutur Maria.

Selain menjadi ikon, mimpi tersebut pun menurutnya bisa menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat di sana.

Tak bisa dipungkiri, banyak anggota kub Textur rajut yang terbantu secara ekonomi sejak mengembangkan hobinya untuk merajut.

"Selama bulan puasa lalu, saya buat sembilan dompet. Itu saya jadikan THR.
Sebentar saja buatnya, suntuk di rumah langsung pegang rajutan. Bikin rajutan itu candu, sudah kelar dompet satu, pengen buat lagi yang model lain.

Nanti dijual, satu buah dompet misalnya Rp 65 ribu," ucap anggota kub, Atik Kartika.

Meski terbilang anggota baru, Atik mengaku sangat senang bisa belajar merajut secara gratis saat itu.

"Nanti habis masak, baru saya kerjain," ujar Atik.

Tak cuma Atik, hal serupa pun dirasakan Lia yang juga anggota baru.

Meski tidak tinggal di Tembesi Pos, Lia sengaja ikut belajar merajut bersama klub tersebut untuk bisa mengembangkan dirinya.

"Awalnya frustasi juga, kenapa tangannya kok enggak bisa. Kebanyakan kebelit benang.

Kalau merajut itu, ada yang sehari langsung bisa, ada juga yang sampai berbulan-bulan belajar nggak bisa. Sebab ini ngerjainnya pakai mood, dan tergantung daya tangkapnya juga," ujar Lia.

Warga Buana Bukit Permata itu mengaku sudah berhasil membuat sembilan rajutan berupa dompet dan tempat pensil.

"Lumayanlah, sudah terjual lima di perumahan saya. Biar ada sedikit-sedikit penghasilan buat bantu suami.

Merajut membuat waktu itu enggak terbuang sia-sia, jadi lebih bermanfaat saja," kata Lia. (ane)

Penulis: Anne Maria
Editor: nandrson
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved