TribunBatam/

Mellennial

Silent Majority Jangan Hanya Berani di Medsos!

Silent majority adalah istilah yang disematkan kepada orang-orang pasif dalam menyuarakan pendapat mereka.

Silent Majority Jangan Hanya Berani di Medsos!
TRIBUNBATAM/ANDRIANI
Mellennial 

GUYS, sering dengar kan istilah silent majority yang akhir-akhir ini semakin sering disebut-sebut banyak orang, terutama di media sosial (Medsos)? Atau mungkin kamu justru masuk dalam kategori kelompik silent majority tersebut?

Silent majority adalah istilah yang disematkan kepada orang-orang pasif dalam menyuarakan pendapat mereka.

Istilah ini sering digunakan dalam dunia politik, tapi kini merambah ke non-politik karena silent majority bisa terjadi di lingkungan mana pun.

Istilah silent majority muncul kali pertama pada pidato Presiden Amerika ke-37 Richard Nixon pada 1969. Waktu itu ia meminta dukungan dari warga Amerika yang tidak mau ikut berdemo dalam menentang kebijakan perang Vietnam.

Dalam pidatonya, dia mengatakan,"... And so tonight - to you, the great silent majority of my fellow Americans - I ask for your support." (Dan malam ini, kepada kalian, masyarakat Amerika yang bungkam, saya meminta dukungan kalian).

Johannes Frederik Warouw, pengamat dan sosiolog pertumbuhan perkotaan Universitas Indonesia (UI) mengatakan bahwa silent majority memilih untuk bungkam karena merasa lebih aman daripada harus bersitegang dengan mereka yang aktif dalam memberikan suaranya.

Mereka juga lebih berhati-hati saat memutuskan untuk berbicara dan menunjukan keberadaanya kepada orang banyak. Mereka biasanya lebih mengamati perkembangan isu tersebut tetapi tidak mau bersuara.

Hal senada juga diungkapkan Dinuriza Lauzi, M.Psi, psikolog praktisi dan psikolog LPSK.

"Banyak alasan mendasar kenapa mereka memilih untuk diam dan bungkam saat menghadapi situasi yang membuat tidak nyaman. Mulai dari merasa takut, malas berdebat, menunggu momen yang tepat untuk berbicara, sampai-sampai mereka menjaga hubungan dengan sekitar," kata Dinuriza, Kamis (7/9/2017).

Guys, menjadi diam memang itu pilihan. Namun, menjadi silent majority tentu saja memberikan efek yang terkadang negatif, dimana para silent majority terpaksa setuju dengan suatu hal yang sebenarnya tidak disukai atau bahkan tidak benar.

Halaman
12
Penulis: andriani
Editor: Tri Indaryani
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help