TribunBatam/

Soal Desa Wisata, Ini Harapan Tatanan Wisata Anambas!

Soal Desa Wisata, Ini Harapan Tatanan Wisata Anambas! Begini Penjelasannya!

Soal Desa Wisata, Ini Harapan Tatanan Wisata Anambas!
SCREENSHOT VIDEO
Ilustrasi. Seorang wisatawan membersihkan terumbu karang dari sampah plastik saat menyelam yang awalnya hanya untuk menyaksikan keindahan bawah laut Pulau Berhala, di Anambas 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, ANAMBAS-Ketua Tatanan Wisata Anambas meminta kepada Pemerintah Daerah untuk melakukan pembenahan pada sejumlah infrastruktur dasar di desa. Hal ini dianggap penting, terlebih sejumlah desa yang rencananya bakal ditetapkan menjadi desa wisata.

"Saya kira pembenahan infrastruktur dasar mutla diperlukan. Mulai dari transportasi, telekomunikasi dan beberapa hal mendasar lainnya untuk pendukung pariwisata perlu dipenuhi terlebih dahulu. Jangan sampai terlalu banyak angan-angan, namun tidak terealisasi," ujar Indra Syahputra saat dihubungi Kamis (14/9/2017).

‎Ia menambahkan, tidak jarang wisatawan yang merasa kecewa dengan infrastruktur dasar penunjang pariwisata yang masih rendah pada sejumlah desa yang memiliki potensi pariwisata. Pihaknya pun mendesak agar pemenuhan infrastruktur dasar pada sejumlah desa ini dapat terpenuhi.

"Keluhan ini bukan hanya dari wisatawan mancanegara saja, namun juga wisatawan lokal. Sangat disayangkan apabila desa yang punya potensi pariwisata, namun sarana penunjangnya tidak berjalan optimal. Untuk promosi, saya kira sudah sudah berjalan baik melalui berbagai media," ungkapnya.

Bupati Kabupaten Kepulauan Anambas, Abdul Haris pun juga memberikan catatan penting soal rencana desa wisata ini. Saat memberikan sambutan pada rapat koordinasi tindaklanjut

rencana aksi program asistensi tata kelola destinasi pariwisata khusus di Anambas Resort, dirinya menekankan hal penduung lain dalam merealisasikan desa wisata.

"Meskipun punya potensi, namun ramah tamah dalam bersikap, bahasa masyarakat ini yang saya kira penting untuk membangun pariwisata. Meskipun (desa) punya potensi," ujarnya.

Menurutnya, upaya dalam meningkatkan pariwisata harus dilakukan secara 'keroyokan'. Ia menegaskan, makna keroyokan yakni semua pihak untuk membantu tanpa melihat tugas dan kewenangan siapa.

"Harus keroyokan, jangan ada anggapan ini tugas siapa. Saya juga meminta kepada Lembaga Adat Melayu (LAM) untuk sama-sama memberikan pemahaman kepada masyarakat

Kalau bicara setengah-setengah, ini tidak jadi. Karena ini bukan bicara waktu satu atau dua tahun. Beberapa daerah seperti Bali itu butuh waktu lama untuk menyatukan mindset masyarakatnya," bebernya.

Ia pun mengklaim kabupaten/kota yang fokus pengembangannya pada sektor pariwisata tidak terpengaruh dari sisi keuangan yang anjlok. Ia pun menyayangkan, bila potensi pariwisata yang telah ada tidak termanfaatkan dengan baik serta maksimal.

"Saya kira itu suatu kerugian. Kabupaten/kota yang mengembangkan pariwisata belum kita dengar defisit, keuangannya anjlok. Bali APBD-nya terus meningkat saat krisis. Bagi kota yang mengelola tambang atau sektor industri ada sesuatu gejola ekonomi habis. Tentu ada pengaruhnya," ungkapnya. (*)

Penulis: Septyan Mulia Rohman
Editor: Agoes Sumarwah
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help