Krisis Kemanusiaan Rohingya

Kepala Bayiku Terbakar Saat Tentara Myanmar Lemparkan Bom. Saya Tak Tahu Apakah Ia Bisa Bertahan

Seorang bayi menjadi bukti kekejaman terbaru di negara Aung San Suu Kyi tersebut. Bayi bernama Taslima Brgum menderita luka parah di bagian kepalanya

Kepala Bayiku Terbakar Saat Tentara Myanmar Lemparkan Bom. Saya Tak Tahu Apakah Ia Bisa Bertahan
John Gladwin/Sunday Mirror
Areta Begum memperlihatkan luka bakar di kepala bayinya, Taslima, yang dilempar granat oleh militer Myanmar. 

Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menggambarkan bahwa perlakuan Myanmar sebuah "operasi yang kejam" terhadap Rohingya dan merupakan upaya pembersihan etnis.

Pemerintah Myanmar khawatir karena gelombang pengungsi terus berdatangan dan diperkirakan bisa mencapai satu juta orang.

Mereka tidak hanya menghadapi ancaman militer, tetapi juga para penjahat yang memanfaatkan situasi buruk ini di Myanmar.

Pengungsi Rohingya di kamp pengungsian yang kumuh Bangladesh (Sunday Mirror)

Komplotan perampok saat ini merintangi perjalanan pengungsi.

Perdana Menteri Hasina memang mendapat pujian internasional, termasuk oleh rakyatnya sendiri sebagai "Ibu kemanusiaan dan pemimpin yang menjadi harapan terakhir untuk pengungsi Rohingya".

Tapi hal itu juga menyulitkan baginya karena saat ini, lebih dari 50 juta warga Bangladesh juga didera oleh kemiskinan.

PBB sendiri mengatakan, setidaknya dibutuhkan sekitar 150 juta poundsterling atau sekitar Rp 300 miliar selama enam bulan untuk mengatasi krisis Rohingya.

Setidaknya 250 ribu anak pengungsi kekurangan gizi.

Seorang dokter Unicef ​​mengatakan, anak-anak Rohingya berusia delapan bulan, berat rata-ratanya adalah 6lbs 8oz atau separuh dari berat seharusnya.

Sumber: Sunday Mirror

Kamp pengungsian yang kumuh di Kutapalong, Cox Bazar, Bangladesh
Penulis: Alfian Zainal
Editor: Alfian Zainal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved