TribunBatam/

Hangout

Berkunjung ke Toraja, Menyusuri Kete Kesu Makan di Tebing Batu

Objek wisata Kete’ Kesu’ merupakan salah satu tempat wisata yang menyimpan tulang belulang manusia yang berada di sebuah tebing batu.

Berkunjung ke Toraja, Menyusuri Kete Kesu Makan di Tebing Batu
TRIBUNBATAM/ISTIMEWA
Hangout 

HAMPARAN sawah hijau luas membentang menyambut kami sesaat sebelum memasuki kompleks objek wisata Kete’ Kesu’. Tongkonan, rumah adat Toraja, terlihat di ujung batas persawahan.

Dengan membayar tiket masuk sebesar Rp 10.000, kami dapat memasuki lokasi wisata ini melalui sebuah jalan setapak yang menjadi satu-satunya jalan masuk bagi wisatawan untuk mencapai komplek rumah adat tongkonan tersebut.

Objek wisata Kete’ Kesu’ merupakan salah satu tempat wisata yang menyimpan tulang belulang manusia yang berada di sebuah tebing batu.

Tempat ini dapat dicapai dengan perjalanan darat sekitar 8-10 jam dari Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Jaraknya kurang lebih tujuh kilometer dari Selatan Kota Rantepao.

Rumah-rumah adat tongkonan ini diperkirakan berumur 300 tahun. Tongkonan ini diwariskan secara turun temurun dari nenek moyang orang Toraja kepada anak keturunan mereka. Di depan tongkonan, dihiasi dengan ukiran dan susunan rapi tanduk kerbau.

Semakin banyak atau semakin tinggi susunan tanduk kerbau tersebut menunjukkan semakin tinggi pula status sosial si pemilik rumah. Di depan tongkonan juga dapat dijumpai lumbung padi sebagai tempat menyimpan hasil panen mereka.

Tidak jauh dari komplek rumah adat tongkonan ini, terdapat sebuah komplek perkuburan batu kuno yang terletak pada sebuah bukit tebing batu yang dikenal dengan nama Bukit Buntu Kesu.

Untuk mencapainya kami harus menempuh sebuah jalan setapak lainnya yang terdapat di sebelah kiri dari komplek tongkonan. Di kiri-kanan jalan menuju Bukit Buntu Kesu ini dipenuhi pedagang yang menjual cindera mata bagi wisatawan.

Ini merupakan kuburan batu kuno yang ada di Kete’ Kesu’. Usianya diperkirakan sudah lebih dari 600 tahun. Bukit batu ini dilengkapi dengan goa-goa yang berisi erong atau peti mati yang terbuat dari kayu berukir.

Beberapa peti mati diletakkan di atas tebing dan disangga dengan kayu-kayu penyangga sedemikian rupa agar peti-peti tersebut aman berada di atas tebing.

Halaman
123
Editor: Tri Indaryani
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help